Featured

Babi Ngepet : Sebuah Bukti Kebejatan Media

Adam Ibrahim menjawab serbuan pertanyaan wartawan dengan wajah letih. Seolah tak cukup Polres Metro Depok menginterogasinya selama 1×24 jam, kini ia harus dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang baginya pun tak memiliki jawaban.

“…timbul lah di hati dan pikiran saya dan kita semua ini hal tersebut, agar selesai permasalahan yang ada di tempat kita,” jawab Adam pasrah.

Pria yang sehari-harinya menjadi pemuka agama ini hanya ingin memberikan solusi atas kegundahan tetangganya yang rupanya kehilangan uang sebesar Rp 1 juta sebanyak dua kali.

Adam Ibrahim

Ia pun menjelaskan bahwa kemungkinan uang tetangganya dicuri tuyul atau babi ngepet. Permasalahannya, Adam tidak mengatakan itu sambil lalu. Entah dapat ide dari mana, ia kemudian merekayasa cerita supaya tetangganya dan orang-orang sekampung percaya pada apa yang dikatakannya.

Adam mengajak rekannya, Firman, untuk membuat skenario Babi Ngepet ini. Tak hanya berdua, tujuh orang Bapak-Bapak lainnya turut andil menyukseskan ide Adam Ibrahim.

Bermodal Rp 1.2 juta (babi + ongkir), Adam cs mengarang cerita bahwa mereka kehilangan uang dan melihat pergerakan Babi Ngepet yang dicurigai sebagai maling di lingkungan mereka.

Pada 27 April 2021, Adam dan teman-temannya menjalankan rencana mereka dengan melepas babi dan mengejarnya beramai-ramai tanpa busana. Setelah tertangkap, babi itu mereka hajar tanpa ampun.

Video penangkapan Babi Ngepet itu menjadi viral karena beredar luas di hampir seluruh platform media sosial. Makin heboh, setelah berulang kali diulas sebagai fenomena aneh di berbagai media nasional. Masyarakat menjadi gempar.

Barulah belakangan ketahuan, isu Babi Ngepet hanyalah fiksi karya Adam dan 8 orang lainnya.

Atas perbuatannya, Adam terancam Pasal 14 ayat 1 dan atau ayat 2 UU nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana terancam kurungan 10 tahun penjara.

Apakah Adam Ibrahim dan ke-8 temannya bersalah?
Benarkah mereka menyebarkan hoaks?
Apakah pidana itu setimpal dengan perbuatan mereka?

Menjawab pertanyaan pertama, katakanlah Adam Ibrahim dan 8 orang temannya bersalah. Tetapi bersalah kepada siapa? Karena permasalahan Babi Ngepet ini sebetulnya hanya cukup untuk internal lingkungannya. Hanya untuk meyakinkan tetangganya dan meyakinkan kampungnya bahwa dia layak menjadi seorang Tokoh. Sesederhana itu.

Apakah Adam melakukan kriminalitas dengan dalih adanya Babi Ngepet? Misal, mencuri kemudian menuding Babi Ngepet sebagai pelakunya. Apakah ia melakukan itu?
Tidak.

Apakah Adam menyebarkan isu tersebut ke seluruh medsos layaknya buzzer walaupun isu itu bohong?
Tidak.
Adam menyebarkan untuk kalangannya sendiri.

Lantas, siapa yang menyebarkan hoaks itu?
Media.

Media-lah yang membuat isu yang sangat domestik dan minor ini menjadi viral dan seolah masif. Media memiliki coverage yang lebih luas untuk menjangkau masyarakat di seluruh Indonesia. Tak hanya di Sawangan Depok, kini berkat media online maupun TV, nama Adam Ibrahim dan Babi Ngepet-nya bergaung di seluruh nusantara.

Tanpa menganalisis dampak yang akan ditanggung Adam, media besar melakukan justifikasi kepada Adam. Pada wawancara-wawancara live by phone, presenter bertanya: “Bagaimana anda bisa melakukan perbuatan itu? Apa motif anda?”

Bayangkan, Anda berbohong kepada tetangga. Tetangga anda percaya. Kemudian cerita anda terendus media dan cerita anda disebarkan secara nasional. Kemudian mereka hubungi anda untuk konfirmasi. Setelah anda konfirmasi, anda dituding melakukan kejahatan atas masalah pribadi anda sendiri sehingga anda dipidanakan.
Dan media tidak bertanggung jawab atas nasib anda.

Pertanyaannya, ya memang kenapa kalau Adam berbohong?

Memang kenapa kalau Adam bilang ada Babi Ngepet? Hoaks apa yang diciptakannya dan apa implikasinya untuk kehidupan bermasyarakat kita?

Emang apa sih Hoaks?

A hoax is a falsehood deliberately fabricated to masquerade as the truth. It is distinguishable from errors in observation or judgment, rumors, urban legends, pseudosciences, and April Fools’ Day events that are passed along in good faith by believers or as jokes ( Brunvand, Jan H., 2001)

Jadi ada unsur humor di dalam memandang hoaks itu. Yang mana kebenaran atas hoaks itu menjadi judgement kita sendiri berdasarkan data dan pengalaman yang kita dapatkan.

Setelah timbul kritik pemberitaan Babi Ngepet, media massa kita ‘ngeles’ dengan mempertanyakan kenapa masyarakat percaya Babi Ngepet. Lah, yang menayangkan siapa?

Agenda Setting-nya bagaimana?

Jadi di dalam menyusun pemberitaan, media memakai agenda setting. Di dalam Teori Agenda setting yang dikemukaan Mc Combs dan Donald Shaw diungkapkan bahwa apa yang dianggap penting bagi media maka dianggap penting juga oleh publik.

Kalau mereka menganggap penting isu Babi Ngepet, publik tentunya juga akan mempercayai bahwa isu Babi Ngepet itu penting. Dan besar kemungkinan Babi Ngepet benar-benar nyata adanya.

Memang masalahnya apa jika video Babi Ngepet itu beredar luas? Apakah anda resah dengan adanya Babi Ngepet?

Rasa-rasanya kita tidak resah akan eksistensi seekor Babi Ngepet. Yang kita resahkan, apabila ada kesalahan informasi mengenai tanggal mudik. Kesalahan informasi mengenai distribusi bantuan sosial.

Tapi lihatlah dari bahasanya. Jika orang besar menyebar informasi yang tidak valid, maka disebut dengan KESALAHAN INFORMASI.
Sementara orang kecil salah menyebarkan informasi disebut menyebarkan Hoaks. Dan demikian ia pantas dipidana, bahkan sampai terancam 10 tahun penjara.

Jika perbuatan Adam dikenai pidana 10 tahun, mengapa Uya Kuya dengan hipnotisnya tidak dikenai pidana juga?

Atau bagaimana dengan rekayasa kawin cerai artis? Bukankah itu masalah pribadi yang juga diblow up media? Tetapi mengapa ketika tahu bahwa kawin cerai artis itu bohong, tak ada satupun isu tersebut yang tertulis di Berita Acara Pidana sebagai Menyebarkan Berita Bohong atau Hoaks.

Dan bukankah Pejabat kita sering salah informasi? Mantan Menkes Terawan misal, yang mengatakan bahwa Covid bukan penyakit berbahaya di awal pandemi? Apakah itu less harmful dibandingkan hoaks Babi Ngepet?

Media massa mempunyai kekuatan dalam mempengaruhi publik. Menurut Harold D. Laswell dalam karyanya The Structure and Function of Communication in Society mengatakan bahwa cara terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan: Who Says What in Which Channel To Whom With What Effect artinya siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa.

Media massa memberitakan Babi Ngepet sambil mem-bully pelakunya padahal teori yang menjadi dasar pemberitaan saja mereka tidak mengerti. Apa bedanya dengan Adam Ibrahim dan teman-temannya?

Featured

Legalitas Investasi Miras : Perlu Ga (Dipublikasikan) ?

Presiden Joko Widodo baru-baru ini melegalkan produksi miras di 4 daerah.

Bali.
NTT.
Sulawesi Utara.
Papua.

Masyarakat en netizen pun sontak heboh membaca kabar tersebut.

Sebetulnya apa sih yang dihebohin?

Sedari dulu, Undang-Undang kita memang tidak pernah mencantumkan pelarangan konsumsi minuman keras atau minuman beralkohol.

Kalau konsumsi air keras.. nah itu baru ngga boleh. Karena di Indonesia air keras bukan buat diminum tapi disiramin ke muka orang. Eh.

Nah, perihal minuman alkohol tadi.
Sebagaimana termaktub dalam beberapa UU lawas, konsumsi alkohol cuma sebatas tidak boleh dikonsumsi di depan umum. Jadi bolehnya di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menyatakan bahwa tindak pidana minuman keras diatur dalam Pasal 300 dan Pasal 536 antara lain bahwa :

Pasal 300 KUHP.
“Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun atau denda sebanyak banyaknya Rp. 4.500 di hukum :
Barang siapa dengan sengaja menjual atau menyuruh minum-minuman yang memabukkan kepada seseorang yang telah kelihatan nyata mabuk;
Barang siapa dengan sengaja membuat mabuk seorang anak yang umurnya di bawah 16 tahun; dan
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan dengan sengaja memaksa orang akan minum-minuman yang memabukkan.

  1. Kalau perbuatan itu menyebabkan luka berat pada tubuh, sitersalah di hukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.
  2. Kalau si tersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatannya ia dapat dipecat dari pekerjaannya itu.”

Pasal 536 KUHP.
Barang siapa yang nyata mabuk berada dijalan umum dihukum denda sebanyak-banyaknya Rp. 225.
Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lalu satu tahun, sejak ketetapan hukuman yang dahulu bagi sitersalah lantaran pelanggaran berupa itu juga atau pelanggaran yang diterangkan dalam Pasal 492, maka hukuman denda itu dapat diganti dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari.
Kalau pelanggaran itu diulang untuk kedua kalinya dalam 1 tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang pertama karena ulangan pelanggaran itu maka, dijatuhkan hukuman kurungan selama-lamanya dua Minggu
Kalau pelanggaran itu diulang untuk ketiga kalinya atau selanjutnya di dalam 1 tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang kemudian sekali lantaran ulangan pelanggaran untuk kedua kalinya atau selanjutnya, maka dijatuhkan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan.”

Ingatkah anda pada minuman AO alias Anggur Orang Tua dan Amer alias Anggur Merah?

Kedua minuman tersebut bisa beredar luas dari tahun 1948 dan tidak dihentikan peredarannya sampai sekarang. Tahu kadar alkoholnya? 19,7%.

Sekarang Jokowi melegalkan produksi arak di Bali, sopi atau Sophia di NTT dan Papua, serta ciu Cap Tikus di Sulawesi Utara. Kita mau bilang apa?

Padahal, mengacu pada undang-undang yang mengatur miras dikatakan juga bahwa jika seseorang memproduksi minuman beralkohol dan berbahaya bagi konsumen maka akan dipidana.

Cap Tikus secara sertifikasi pangan jelas tidak ada, kandungan alkoholnya sampai 40%. Sopi kandungan alkoholnya 30%. Dan arak Bali kandungan alkoholnya mencapai 40% juga.

Terus, bahaya ngga? Orang kita mah minum oplosan spiritus juga ga kenapa-kenapa. Jadi, bahaya atau ga bahaya itu tergantung konsumennya.

Secara rasa, duhhh.. beda jauh dengan Jack D, Jagermeister, Martell, Saphire Bombay, Knob Creek, apalagi Redemption.

Terus kok optimis banget bisa membawa arak atau ciu lokal ke kancah perdagangan miras internasional? Ekspor pisang ke Amerika aja gagal mulu. Yah mau bilang apa.

Mungkin daripada kita konsumsi produk luar lebih baik produk lokal.

Sambil clubbing, “Bro, Cap Tikus dulu kitaa..” Atau besok cewe-cewe milenial pesan, “Bloody Sopi ada ya?”

Konsumen tetap ada. Bahkan walaupun di setiap kitab suci ada larangan untuk konsumsi alkohol berlebihan, namun tetap saja umat beragama di Indonesia ini ada saja yang mengkonsumsinya. Lantas, apakah salah jika pemerintah membuka kran investasi produk miras?

Tidak salah secara undang-undang.
Tidak salah pula secara budaya.
Namun, tidak tepat secara etika.

Karena berbicara soal membuka kesempatan investasi, maka pemerintah harus mampu pula menyediakan iklim investasi yang nyaman bagi para investor; dalam hal ini investor miras.

Artinya, ke depan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meyediakan jalur distribusi termasuk perijinan bagi produk miras lokal tersebut.

Jika sudah berani membuka diri kepada investor, otomatis harus menyediakan market bagi produk yang di-invest. Apalagi, di dalam Perpres yang dikeluarkan tadi, investasi asing hanya boleh untuk produsen dengan kebutuhan modal 10 M ke atas. Jadi jangan kaget besok-besok kalau di warung sebelah tiba-tiba jual Arak Bali atau Cap Tikus. Semua boleh jual asal ada ijinnya.

Kemudian, berbicara dari sisi menggerakkan ekonomi lokal, justru tidak relevan. Karena, ekonomi lokal yang dimaksud itu —dalam hal ini perajin miras lokal rumahan—nantinya akan tergusur dengan adanya pabrik atau industri miras skala internasional.

Ngga mungkin donk, Bli Made bikin arak Bali 10.000 botol per hari di rumahnya?

Jadi penasaran juga nih.

Berdasarkan pertimbangan apa ya, beliau memasukkan industri minuman alkohol pada Daftar Penanaman Modal? Apakah hal tersebut dirasa perlu untuk mendukung aktivitas pariwisata? Secara dalam daftar di BKPM di atas, ada pula item “hotel bintang 5, hotel bintang 4, lapangan golf, dll.”

Tapi, memang sesuatu yang memabukkan memang lebih enak.
Mau itu mabok agama atau mabok nasionalisme. Atau bahkan mabok investasi.

Ketika Slank Tak Lebih dari Bang Bang Tut

“Banyak yang underestimate Abdee Slank yg ditunjuk jadi Komisaris Telkom. Music, art, culture sangat erat dengan industri digital saat ini. Hanya orang orang yg berpikir ala ala Dinosaurs yg tidak melihat hal ini.

Abdee Slank punya rekam jejak di sini, gak banyak yg tau karena dia gak mau sotoy atau ngerasa paling pas untuk dijadiin Komisaris Telkom seperti kebanyakan Dinousaurs nyinyir di jagat Sosmed yg bentar lagi pada punah digilas jaman”

-Hamba Allah, Generasi Baby Boomers-

Pagi hari saya rusak membaca status Facebook di atas, yang diposting salah satu FB Friend saya, yang kebetulan usianya sudah senior.

Menurutnya Abdee Slank sah-sah saja menjadi komisaris Telkom karena Abdee sudah bermusik sejak lama dan mengetahui seluk-beluk permusikan. Apalagi Telkom punya produk-produk digital, katanya.

Astaga.

Saya rasanya ingin menggebrak meja dan menyatakan bahwa beliau ini mengalami sesat pikir dan tidak memiliki kemampuan logika yang baik dalam memandang permasalahan.

Yang kedua, beliau juga tidak mengerti apa yang beliau bicarakan dalam konteks kekecewaan fans Slank atau Slankers yang bukan hanya berasal dari uneducated grass root, melainkan juga dari intellectual grass root.

Ketiga kalau boleh saya tambahkan, kalau kedua hal di atas ternyata tidak benar adanya, maka beliau ini sebetulnya hipokrit.

Begini, ya. Sejak kapan komisaris BUMN harus punya kredibilitas dan kapasitas untuk menduduki jabatan itu? Tidak usah omong kosong. Bisa dilihat dari masa ke masa, jabatan itu memang sengaja disediakan untuk diisi oleh supporting partners atau sponsors dari pemenang Pemilu.

Kemudian yang kedua, apa urusannya lama bermusik dengan legitimasi menduduki Komisaris Telkom karena nantinya dianggap bisa ngurusin konten, marketplace, dll? Ya kalau gitu, sekalian saja Bimbo jadi Komisaris Telkom. Terus Bapak ini paham tidak ya, kalau Komisaris tugasnya bukan seperti marcom. Tetapi memberikan saran-saran sesuai expertise-nya dalam penentuan strategi perusahaan secara keseluruhan.

Kemarahan saya lebih kepada saya tidak percaya ada orang dengan pendidikan yang sangat baik, lulusan luar negeri, posisi di pekerjaan tinggi, bergerak di bidang ekonomi pula, kok bisa berpendapat ngasal begitu.

Ya, walaupun saya tahu sih pendapat beliau sama persis dengan pendapat Triawan Munaf, kepala Bekraf.

Nah, Beliau ini kebetulan hobi main musik dan jago sebagai drummer pada masanya. Dan referensi musik yang kadang beliau sebutkan di antaranya White Lion, Van Hallen, dan Metallica. Mengingat beberapa musisi favoritnya tersebut, kejengkelan saya pun mereda.

Oh ya, beliau beda generasi sehingga tidak paham rekam jejak Slank. Meskipun, seharusnya dengan usianya dan latar belakang sosial ekonominya, beliau bisa saja berkomentar setelah mencari tahu lebih banyak informasi.

Saya ingat ketika Slank dulu konser di Jepang pada tahun 2000.

Saya baca liputan indepth-nya di majalah Hai. Saking dalamnya liputan itu, sampai detail-detail-nya saya ingat. Betapa mereka baru pertama konser di Jepang di tengah musim dingin pada Februari itu. Bibir mereka sampai kering dan pecah-pecah sehingga harus pakai lipgloss. Dan itu juga kali pertama mereka pakai lipgloss.

Saya menyimpulkan kala itu, bahwa Slank adalah anak gedongan yang sengaja menurunkan kelas sosialnya. Menjadi kelas middle-lower demi bersama dengan para akar rumput melawan arogansi dan kesewenang-wenangan Pemerintah.

Status sosial mereka yang sesungguhnya bisa dilihat dari outfit mereka selama konser di Jepang. Dengan boots dan jaket bulu yang kelihatan tidak murah. Padahal ‘kan biasanya pakai baju belel serampangan. Hidup sederhana di basecamp-nya di gang Potlot di bawah asuhan Bunda Ifeth.

Dugaan saya menemukan jawaban. Ketika saya baca artikel lain yang menceritakan bahwa Bimbim ternyata adalah cucu mantan Gubernur DKI, Soemarmo Sosroatmojo, gubernur DKI sebelum Ali Sadikin.

Di tengah konser, Slank mengobarkan semangat nasionalisme dengan membawakan lagu nasional yang disambut dengan koor penonton, yang rupanya kebanyakan mahasiswa dan pekerja Indonesia yang hidup di Jepang. Konser di Jepang itu sukses besar bagi Slank dan membawa mereka ke konser-konser Internasional lainnya, seperti di Malaysia, Thailand, dan lainnya.

Saya yang sudah lama menjadi fans Slank—meskipun menolak disebut Slankers—semakin penasaran mengeksplorasi arti dari lagu-lagu Slank.

Saya mengagumi kreativitas dan kecerdasan mereka menangkap isu sosial sebagai bahan untuk berkarya. Dan di saat yang sama, mereka menggunakan karya mereka untuk menyampaikan isu-isu sosial.

Misal, Kritis BBM, Bang Bang Tut, Kalo Aku Jadi Presiden, Orkes Sakit Hati, Gosip Jalanan, Mars Pemilu, dan masih banyak lagi. Bahkan albumnya pun kerap bertajuk kritik sosial, misal Mata Hati Reformasi. Jadi, Slank itu seperti Iwan Falls di era saya hanya saja versi hardcore.

Ketajaman lirik lagu-lagu Slank terhadap penguasa konsisten mereka serukan hingga saat pemerintahan SBY. Mereka selalu mengkritisi upaya-upaya pemerintah untuk secara bertahap memreteli otoritas KPK.

Tapi sejak tahun 2013, sikap Slank sudah mulai mencurigakan dengan memperlihatkan keberpihakannya kepada calon penguasa. Bahkan menjadi pengisi acara utama bagi kegiatan Kampanye Jokowi-JK kala itu. Tidak sampai di situ, Slank menggubah lagu Salam 2 Jari yang seolah menjadi simbol penyerahan loyalitasnya kepada sang Petahana.

Yang lebih ironis, di dalam konser itu dibacakan apa yang disebut Manifesto Slankisme. Slankisme adalah paham yang selalu disuarakan oleh Slank dan isi dari paham itu ditulis di dalam 13 Manifesto-nya pada tahun 2005.

“Manifesto Slank:

1. Kita harus kritis
2. Berjiwa sosial
3. Penuh solidaritas
4. Saling setia
5. Selalu merdeka
6. Hidup sederhana
7. Mencintai alam
8. Manusiawi
9. Berani untuk beda
10. Menjunjung persahabatan
11. Punya angan yang tinggi
12. Menjadi diri sendiri
13. Membuka otak dan hati kita”

Maka, benarlah teori Antonio Gramsci dalam Teori Hegemoni Kultural-nya. Bahwa cara paling efisien menundukkan lower society dalam kelas sosial, bukan dengan kekerasan. Tetapi dengan cara memegang pentolan-nya dan memasukkan mereka ke dalam sistem kekuasaan. Dengan demikian, pemerintahan Jokowi mendapat anugerah buy one get one (million) dengan merengkuh Slank sebagai influencer mereka.

Tidak hanya mendapatkan jutaan pemilih, dengan cara ini Jokowi juga berhasil memampatkan mortar yang selalu memuntahkan orasi-orasi kritis di setiap era pemerintahan.

Tidak salah jika Abdee menjadi Komisaris Telkom. Ia pantas mendapatkan jabatan tersebut sebagai koordinator dan bagian dari kampanye politik Jokowi.

Akhirnya manifesto Slank harus dimaknai dengan mengartikan bahwa kata “selalu merdeka” berarti juga merdeka menentukan arah keberpihakannya, apakah pada rakyat atau penguasa. “Berani beda” dengan dirinya yang dulu.

Atau “hidup sederhana” dengan ukuran siapa. “Membuka otak dan hati kita” terhadap segala peluang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan domestik.

Dan tepat sewindu dari saat itu, manifesto-manifesto Slank ternyata terbukti telah Terbunuh Sepi di antara para Tong Kosong yang nyaring bunyinya.

Sillicon Valley Bak Suntikan Silikon Bagi Indonesia

Setidaknya sudah dua kali nama Sillicon Valley dicatut untuk presentasi Proyek Pemerintah tanpa pemberitahuan kepada Amerika Serikat. Yang pertama, Sillicon Valley Sentul tahun 2016. Dan yang kedua, Sillicon Valley Sukabumi tahun 2021 ini.

Kebayang ga sih, pemerintah Amerika bikin perkebunan sayuran terus dinamai Kopeng Kentucky ? Atau bikin pelabuhan ikan besar dinamai Muara Angke Los Angeles?

Kalaupun mereka ga malu namain komplek industrinya pake nama tempat negara lain, mereka pasti ijin dulu secara protokoler.

Anyway, Sillicon Valey ala Sentul tadi, nama aslinya adalah Sentul City Tech Center. Ngga main-main, dibangun di tanah seluas 140 hektar.

Sementara Sillicon Valley Sukabumi, yang lahannya katanya sebelahan sama PTPN V (jadi mungkin nanti bisa perluasan juga kalau mau), luasnya lebih gila lagi, 8x lipatnya!
Awhh awhh awhh.. ga kuku, kan?

Satu hektar sawah menghasilkan 5,7 ton padi. Anda bayangkan, berapa ton padi yang bisa dihasilkan di tanah seluas 140 hektar? Berarti hampir 800 ton. Wah, wah ngga perlu impor beras donk ya. Kalau 888 hektar? (Angka cantik tuh ya, pasti yang punya taipan—emang iya!) Berarti bisa 5000an ton!

Tapi beras kan harganya ga seberapa. Jadi, akhirnya dibuatlah lahan industri untuk teknologi. Sekarang pemerintah lagi cari-cari investor untuk pembangunannya. Dibantu oleh Amartya Karya sebagai kontraktornya, proyek di Cikidang dan Cibadak ini dinamai Bukit Algoritma.

Istilah-istilah yang dipakai kok rumit amat ya. Tapi kira-kira paham betul ga artinya?

SILLICON VALEY

Sillicon Valley itu kan nama kawasan industri di San Fransisco, California, Amerika Serikat. Tau ga industrinya apa? Pada tahun 1971, nama itu pertama kali dimuat di koran Electronic News dan dibuat oleh Don Hoeflr yabg kemudian dipopulerkan oleh Ralph Vaerst, pengusaha besar di California.

Nama itu mengacu pada kawasan industri besar di San Fransico Bay yang bergerak di bidang pembuatan Silikon sebagai material semi-konduktor. Semi-konduktor buat apa? Semi-konduktor untuk komponen kelistrikan pastinya 😂

Tapi lebih spesifiknya, untuk komponen kelistrikan pada perangkat komputer, telekomunikasi, dll.

Pada perkembangannya, memang banyak perusahaan teknologi yang berkantor di kawasan Sillicon Valley ini. Mulai dari IBM, Intel, Microsoft, Apple, Google, Facebook, Visa, Apple, dll.

Jadi ada suatu ekosistem yang sudah terbentuk di situ. Antara kawasan industri untuk produksi material, perusahaan-perusahaan konsumen mereka, perusahaan-perusahaan yang juga sudah mature yang terkait dan juga bergerak di bidang yang sama.

Ketika pemerintah mengadopsi term Sillicon
Valley pada Sentul City atau Cikidang ini, apakah akan membangun ekosistem yang sama?

Atau maksudnya hanya membangun pusat inkubasi bagi digital start up dan memaksa perwakilan para unicorn di Indonesia seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan teman-temannya untuk berkantor di sana?

Kami yakin yang pertama menyambut dengan antusias pastilah Ruang Guru.

Jadi iklan deh

BUKIT ALGORITMA

Pertama kali mendengar istilah tersebut, rasanya seperti sesuatu yang angelic. Heavenly.
Holy, begitu.

Semacam Bukit Thursina.
Atau Bukit Safa dan Marwa.
Subhanallah.

Tapi, kalau-kalau Bukit di atas kan memang konkret adanya dan jelas kegunaannya sebagai situs-situs keagamaan sekaligus sejarah.

Bukit Thursina dari asal kata Bukit dengan banyak pepohonan zaitun (Thursina). Bukit tersebut menjadi ikonik karena dipercaya sebagai tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu yang disebut orang Yahudi Ten Commandments.

Sementara Bukit Safa artinya batu yang licin, Marwa batu putih. Keduanya menjadi tempat sa’i, ritual umat Muslim ketika Haji/Umroh, yakni jalan bolak-balik 7x. Mencontoh kisah Siti Hajar yang bolak-balik 7x untuk mencarikan Ismail air minum.

Nah, kalau Bukit Algoritma ini kira-kira bagaimana maksudnya?

aslinya

Algoritma sendiri simplenya adalah big pattern. Serangkaian pola yang membentuk suatu logika yang bisa dijadikan acuan sebuah otomasi.

Dari kata itu, seharusnya yang dibentuk adalah suatu industri besar teknologi. Bukannya hanya kawasan perkantoran. Tapi lebih dari itu, suatu ekosistem teknologi yang saling berintegrasi untuk membangun industri otomasi.

Wih, keren banget ya.

Tapi, emang mau bikin apa sih?
Robot? Alat perang? Mobil listrik? Atau apa??

Jangan sampe udah keren-keren namanya, ternyata akhirnya cuma jadi tempat inkubasi startup. Atau kawasan industri macam JIEP atau Karawang. Atau ternyata malah ga jadi apa-apa alias mangkrak.

SUNTIK SILIKON BAGI INDONESIA

Tapi kayaknya, istilah teknologi dan digital memang jadi dua istilah yang membuat para generasi X dan baby boomers di kalangan elite politik ini klepek-klepek.

Entah karena sesuatu yang baru buat mereka, atau karena segala sesuatu di dalamnya intangible. Kalau kami sebagai gen Y dan gen Z sih ngerasanya biasa aja ya.

Sillicon Valley ala Sentul atau Sukabumi tidak tahu arahnya ke mana selain yang jelas pada saat ini; mengumpulkan investasi. Silikon yang dimaksudkan jadi bukan silikon yang material semi-konduktor. Tapi silikon buat suntik payudara atau bokong.

Silikon untuk kecantikan.

Yah mudah-mudahan negeri ini menjadi semakin cantik setelah mendapat Suntik Silikon Valley tadi.

Amien Ya Robbal Alamin.

Ketika Komedi Jadi Ajang Kompetisi

Stand-Up Comedy itu kalau dikomentarin dan dinilai berdasarkan selera dan tingkat humor juri, jadi berasa ga lucu ya.

Kebayang ngga sih, kita berusaha ngelawak terus dikomenin, “Becandaan kamu tuh ngga nyambung satu frase dengan frase lainnya.”

Atau “Kamu harus lebih ekspresif dan memainkan tone kamu supaya penonton ikut larut dalam emosi.”

Apakah para juri ini tidak pernah lihat penampilan Dylan Moran? Dylan Moran tiap open mic selalu kayak orang mabok dengan aksen Irish yang kental dan nada yang nyaris flat. Joke-nya sangat segmented, humornya hanya bagi orang yang update kondisi sosial politik. Tapi kursi penonton di luar negeri hampir selalu penuh.

Saya jadi deg-degan tiap liat Stand Up Comedy Indonesia. Bukan karena penampilan pesertanya melainkan komentar jurinya. Duh, ini bikin gue ilfeel ga ya sama jokes peserta?

Kaya waktu liat Stand Up Comedy semalam di Kompas TV. Tadi malam temanya Liburan. Salah satu komika dalam standupnya marah-marah, kenapa temanya liburan. Padahal, dia bilang org desa kayak dia ga pernah kenal liburan.

Orang desa ya tiap hari kerjanya di sawah, ternak, kalau ga bertukang. Sesekali ada orang kota dateng; liburan. Liatin petani nanem padi atau mandiin kebo. Bikin risih, katanya. Suatu saat dia mau balas dendam, ajakin orang sedesanya ke kota. Ke perkantoran Sudirman dan liat orang kota pada meeting dari kaca ruangan 😂

Dibilang sama Raditya Dika, penampilannya kurang greget. Sama Abdel juga dibilang kalau itu bukan selera saya. Cuma Cak Lontong aja yang bilang itu lucu banget. Cak Lontong emang idola saya.

Seandainya saya yang jadi juri, saya bakal tepuk tangan bgt karena gaya dia bercanda mirip banget sama Ronny Chieng, comic asal Australia yg sebetulnya Cina. Ronny selalu bergaya marah-marah, menggebu-gebu, satir, agak kasar, smart, dan kritis terhadap kondisi sosial. Yang gila-nya, mengkritik kondisi sosial di Amerika selama open mic roadshow di Amerika. Dan tiketnya selalu sold out.

Kebalikan sama Trevor Noah asal Afrika Selatan yang biasanya menertawakan kebiasaan orang-orang Afsel. Trevor selalu bercerita dengan kalem, lucu, dan hampir tidak pernah keluar kata kasar. Sekarang dia berhasil jadi host di salah satu program TV terbesar di Amerika.

Keduanya menjadi komika besar dengan style-nya sendiri-sendiri.

Jadi menurut saya sama kayak menulis, komedi itu kalau diarahkan apalagi dikompetisikan jadinya maksa. Ga natural. Kadang saya rindu jaman Srimulat di mana semua orang ketawa meskipun becandaannya wagu.

Benci Tapi Rindu Produk Luar Negeri ala Pak Jokowi

Setelah episode pencabutan investasi minuman keras berakhir, Pak Jokowi kembali menuai kontroversi.

Beliau menyatakan sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia:
“Produk-produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk luar negeri. Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri,” ucap Jokowi dalam Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021, Kamis (4/3).

Sumber: Detik Finance

Wah, Pak Jokowi ngga boleh lho Pak, ngajakin orang buat membenci.
Karena itu melanggar undang-undang.
Membenci = Hate
Pidato = Speech

Jadi Bapak bisa-bisa dikenai pasal Hate Speech 😂 Bercanda lho pak, jangan ditangkap…

Nah, bicara soal produk asing.. perusahaan asing di Indonesia ini setidaknya ada 25.919, termasuk pabrik-pabrik besar seperti LG Electronics, Denso, Panasonic. Tiga perusahaan tadi saja bersama 4 perusahaan lainnya baru-baru ini memasukkan uang 11,9 Triliun ke devisa Indonesia plus menyerap tenaga kerja 30.000 orang.

Itu baru 7. Berarti ada 25.912 lainnya yang berkontribusi pada devisa kita.

Coba.
Ada Unilever. Danone. P&G. Astra. Honda. Yamaha. Apple. Samsung. dll.

PPN-nya saja 297 Miliar tahun 2020.
Belum investasi berupa modal, perijinan, dan lain-lain. Bahlil Lahadahlia (ini susah bener namanya) bahkan menyatakan target BKPM tahun ini dapat investasi relokasi sebanyak US$ 67,33 miliar atau 976-an triliun. Wew!

Ketakutan saya malah kalau pernyataan Beliau tadi didengar perusahaan-perusahaan kelas dunia tadi. Karyawan-karyawannya kan netizen Indonesia juga, nih.

Pasti cepet banget kabar tadi beredar di kalangan mereka. Kalau disampein ke atasan-atasannya gimana? Kok jadi saya yang repot ya.

Ajakan Pak Jokowi untuk mencintai produk dalam negeri sejatinya memang ajakan yang sangat baik. Kualitas produk dalam negeri pun sebetulnya tidak (semua) kalah dengan produk luar negeri.

Hanya saja, Beliau pun harus tahu bahwa jumlah produksinya belum tentu dapat memenuhi permintaan maupun standar orang-orang kita.

Sebagian besar masyarakat Indonesia tanpa diajak untuk mencintai produk sendiri, sudah pakai juga kok.

Peralatan elektronik kipas angin pakai maspion yang bisa duduk dan berdiri itu, dispenser pake sanken, rice cooker pakai miyako.
Material bangunan pakai produk dalam negeri dari galvalum sampai semen Gresik.
Baju banyak anak muda pakai baju distro.

Laptop pakai Axioo.
HP pakai Mito.
Tas pakai Eiger.
Makan pakai …Indomie..selerakuuuu (nyanyi)

Kurang cinta apa, coba?

Tapi yang ngga mungkin untuk saat ini kita pakai mobil Esemka, terus terang Pak.
Atau motor listrik buatan Bambang Soesatyo, Bike Smart itu.

Bukan masalah ngga yakin kualitasnya. Tapi yang namanya pasar terbuka, tentu kita juga mencari yang worth the money.

Kalau sama-sama 100 jutaan, kenapa kita harus beli pickup Esemka daripada pickup Grand Max atau Carry?

Sumber: CNN Indonesia

Atau kenapa harus pakai Bike Smart kalau dengan harga yang sama bisa beli Vario (baca: second)?

Percuma juga Bapak minta untuk membenci karena nantinya kaum the have di Indonesia akan tetap membeli produk impor atau label asing.

Daripada kita yang disuruh membenci, bagaimana jika pemerintah yang mengusir semua perusahaan asing sekaligus melarang distribusi produk asing?

Barangkali ke depannya kita bisa berkembang seperti Negara Vanuatu atau Papua Nugini.

Kalau alasannya untuk mendukung UMKM, masalahnya perusahaan tadi tidak head to head dengan UMKM kita. Tapi justru dengan perusahaan yang skalanya sudah besar juga. Ada baiknya, pemerintah berpikir lebih keras bagaimana supaya UMKM bisa ekspor produk mereka. Sehingga, UMKM lebih berkembang dan masyarakat kita pun ngga malu pakai atau konsumsi produk-produk UMKM.

Nah.. Pak Jokowi mungkin dalam hal ini harus mencontoh Bosnya Maspion, jadi cukup berkata: “Cintailah Plodak Plodak Indonesia!”

Lho, Pak Jokowi Balik Arah Soal Investasi Miras?

Sob, udahan ya ribut-ributnya soal Investasi Miras.

Baca sebelumnya : https://komeninsemua.com/2021/03/01/legalitas-investasi-miras-perlu-ga-dipublikasikan/

Ternyata Pak Jokowi udah mencabut legalitas investasi miras di Papua, NTT, Bali, dan Sulawesi Utara.

Padahal, 3 dari 4 gubernur daerah tadi menyambut dengan riang gembira. Seperti ditulis di berbagai media onlen, katanya Olly Dondowkambey langsung mau tancap gas nyiapin para perajin Cap Tikus buat langsung produksi massal.

Sementara I Wayan Koster happy banget karena itu seiring sejalan bergandengan tangan dengan perda Bali soal produksi dan peredaran miras yang menyangkut kearifan lokal.

Masih sama, Viktor Laiskodat bahkan menyebut bahwa kalo misal nih udah bisa produksi Sopi gede-gedean, maka sudah seharusnya Red Label dkk mesti enyah dari Indonesia. Ah elah.

Yang bikin kaget sampai terjengkang, ternyata justru Gubernur Papua Lukas Enembe menolak adanya investasi miras. Katanya, itu bertentangan dengan perdasus setempat yang melarang peredaran miras secara bebas.

Terlepas dari benarkah itu alasannya, tapi Doi pinter juga sob. Karena yang namanya miras erat kaitannya sama militer dan pengusaha besar. Mana ada local wisdom kalo nantinya industri rumahan Sopi dll dari Papua, justru digeser dengan pabrik miras standar ekspor. Pemain lokal cuman bakal jadi penonton dengan alasan standar ekspor tadi.

Rasanya pun tentu akan disesuaikan dengan standar cita rasa penikmat mirasantika Internesyenel. Jadi pahitnya arak bali mungkin akan jadi light dan hambar layaknya Martel. Terus kearifan lokalnyahh di manahh..? Bagai rendang tapi diganti sama saus Bolognaise.

Nah,sob.. yang namanya pabrik, pasti akan butuh lahan. Ini aja kemarin udah dipake 1,3 juta hektar buat Food Estate. Dipake sama Freeport sempat 2,6 juta hektar (sekarang katanya 25.000 hektar). Lama-lama Papua cuma Raja Ampat doank.

Tapi rupa-rupanya yang membuat Bapak Jokowi banting setir, adalah golongan muslim. MUI, NU, Muhammadiyah, dll.

Ga salah juga, sih. Daripada ntar ke depan PDIP makin kalang kabut ngumpulin suara di 2024 dan seterusnya. Paling aman emang main aman.

Ini sekaligus membuktikan bahwa Beliau tidak anti-kritik. Sekarang tinggal buzzer-nya saja yang gondok setelah mati-matian membantu menjelaskan soal legalitas investasi miras kemarin 😂

Kasian ya, Sob.

Akun Socmed Cewe-Cewe Sexy: Sekedar Sexy atau Ekshibisionis?

Perhatiin, ngga.. IG beberapa tahun ke belakang ini? Akun cewe-cewe kayak banyak banget menghiasi laman explore.

Wajar kalau wajah public figure terpampang di situ. Tapi ternyata di sela-sela Luna Maya, Dian Sastro, Raisa, dan Wulan Guritno cs, muncul pula wajah-wajah yang saya ngga tahu itu siapa.

Mereka pun lebih ngga tahu lagi saya siapa.
Tapi ada benang merah dari perempuan-perempuan asing penghias laman depan Instagram ini.

Pertama; Followernya banyak.
Kedua; Hobi pakai bikini atau tanktop.
Ketiga; Maaf.. rata-rata ‘boobs’-nya di atas ukuran normal.

Ada yang sadar dengan apa yang dia expose. Akhirnya cuman keleleran pake G-String plus kemeja transparan nulis caption, “Morning.. kamu yang baru bangun”

Ada juga yang caption-nya pake quote bahasa Inggris. “Don’t judge me because of how i look and what i wear.”


Mbak, we don’t judge you because of what you wear. No. Because u barely wear something.

Sulit untuk tidak menjadi sexist ketika dari pihak yang tidak mau kita sexist memancing dengan pose atau tampilan sexy.

Daam hal ini, kadang perempuan tidak satu suara dalam memandang feminisme.

Bahkan bisa dibilang bertolak belakang dalam memandang dirinya sebagai subjekkah atau objek.

Di satu sisi, ada perempuan-perempuan yang masih menjaga penampilan, meraih prestasi, berkontribusi pada masyarakat maupun negara.

Sementara di sisi lain, ada perempuan-perempuan yang justru mengumbar bagian tubuh sebagai objek penarik perhatian.

Sebenernya goalsnya apa sih ?
Supaya banyak follower, supaya dapat endorsement?
Antara eksistensi, aktualisasi, dan monetisasi diri?

Pemikiran yang mendasari Gerakan Feminisme salah satunya adalah pemikiran Marry Wallstonecraff dalam bukunya “The Right of Woman” pada tahun 1972 yang mengartikan Feminisme merupakan suatu gerakan emansipasi wanita, perbaikan kedudukan wanita, dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan wanita.

Persamaan Derajat.
Bagaimana derajat perempuan mau sama dengan laki-laki jika mau dijadikan objek pemuas nafsu lelaki?

Atau mungkin emansipasi dan persamaan derajat ini diartikan sebagai persamaan dalam hal hak menjadi ekshibisionis?

Saya jadi ingat waktu saya masih SMP, saya dan teman-teman saya melintas di sebuah jalan sepi. Di depan saya, sebuah mobil sedan parkir. Saya melintas di samping kanannya. Kagetlah saya, pria yang ada di dalam mobil itu membuka kaca jendela dan memperlihatkan kemaluannya. “WAAA!””
Saya pun langsung lari ketakutan bersama teman-teman.

Sekarang kejadian tersebut tidak lagi di jalanan sepi. Tetapi di media sosial. Yang bisa diakses berbagai umur dan kalangan. Bedanya si pelaku bukanlah pria, tetapi wanita.

Dan responnya pun berbeda, kalau saya dan teman-teman saya lari pontang-panting. Sementara di media sosial, ‘korban-korban’ ekshibisionisme-yang kebanyakan pria— justru komen “wah jadi bangun nih..”
“mau dong bobok sama mbaknya”
“yang masih pake honda beat, ngga usah ikutan nga***ng”

Disebutkan dalam penelitian Odoemelam, A. (2014). “Incidence and Management of Male and Female Sexually
Maladjusted Youngsters: Gender and Counselling Implications”, ekshibisionisme ialah suatu kelainan yang ditandai dengan keinginan, fantasi, atau perilaku mengekspos alat kelamin untuk membuat orang lain terangsang secara seksual atau memiliki keinginan kuat untuk diamati oleh orang lain tanpa harus melakukan kegiatan seksual terhadap orang lain.

“Tapi.. payudara bukan organ seksual kan? Dan di IG kita ngga memperlihatkan vagina lho”

Dalam buku Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity (Stonewall Inn Editions, 1999), Ahli biologi asal Kanada, Bruce Bagemihl mencatat, beberapa spesies primata, termasuk manusia terlihat merangsang puting sendiri saat masturbasi. 

Antropolog, Owen Lovejoy, berpendapat bahwa evolusi menempatkan organ reproduksi pria dan wanita membentuk ikatan. Dalam hipotesis ini, menandakan kalau rangsangan seksual bukan hanya terjadi bila pria menyentuh payudara wanita tapi juga saat penis pria diberikan sentuhan.

Jadi, walaupun bukan organ seksual utama, namun payudara dalam kehidupan primata merupakan penarik atau perangsang bagi aktivitas seksual itu sendiri.

Dan mengumbar organ seksual atau penarik seksualitas di media sosial bisa dikategorikan sebagai perilaku ekshibisionis.

Kalau sebagai perempuan mau menyuarakan persamaan derajat, martabat, dan kedudukan dengan para lelaki, mulailah dari menjaga martabat diri sendiri.

Cara paling gampang, bisa melihat dari banyaknya follower dan komen-komen yang mengikuti akun media sosial. Jika ternyata banyak laki-laki yang komentar tidak pantas, maka di situlah seharusnya seorang perempuan yang bermartabat mempertanyakan apa yang menjadi daya tarik bagi para lelaki itu.

Benarkah Sapi Tidak Ramah Iklim?

Baru-baru ini, banyak ulasan soal Makanan Ramah Iklim di berbagai media dan blog.

Bisa saya simpulkan bahwa ini hasil press release, hasil record dari zoom meeting atau semacamnya.

Karena semua pattern penulisannya sama.
Pertama, latar belakang kenapa perlu makanan ramah iklim ini.

Yaitu, bencana alam di Indonesia mencapai 2900-an kasus, pelelehan es dari kutub utara dan selatan, banjir besar, tanah longsor, dll. Dan itu semua disebabkan oleh ketidakseimbangan alam akibat emisi carbon yang berlebih.

Sehingga, adalah penting untuk kita mengurangi bencana dengan mulai dari diri kita sendiri; salah satunya menerapkan konsep konsumsi Makanan Ramah Iklim.

Saya yakin BPPTKG akan menangis membaca tulisan tadi, betapa gunung berapi meletus akibat banyaknya emisi gas CO dan CO2 di udara.

Begitupun juga Anies Baswedan atau Ahok bahkan Jokowi sekalipun akan sedih membayangkan ternyata solusi mengatasi banjir Jakarta sesimpel jadi vegetarian.

Makanan Ramah Iklim ini sedang kenceng-kencengnya di-publish oleh sejumlah pihak seperti Oemar Niode Foundation dan Ahli Kuliner William Wongso.

Senada dengan mereka, Bill Gates juga bilang orang bisa mengurangi efek pemanasan global itu dengan mengurangi konsumsi bahan pangan yang menghasilkan gas karbon dioksida atau monoksida.

Misal, daging sapi.
Dan hanya daging sapi.
Contoh lain seolah pelengkap saja.

Versi Bill Gates, daging sapi betulan ini harus diganti pakai daging sapi sintetis, dan kebetulan beliau punya produknya.
Kok jadi kayak sales susu bayi ya.
“Ibu, kebanyakan laktosa bisa bikin anak mencret lho. Kebetulan kami ada produk susu soya PHP, dengan kandungan gizi seimbang! Ini dia, Bebelok 2!”

Mereka juga memaparkan bahwa supply chain daging sapi menyumbang 30% pelepasan karbon ke udara, mulai dari pengolahan pupuk, ritel, hingga pengantaran daging sapi ke rumah.

Saya kok ga paham ya, rantai distribusi apa yang dimaksud. Bukankah kalau pengantaran sapi atau daging sapi berarti yang menghasilkan karbon adalah mesin atau kendaraan? Bukan si sapinya, kan?

Berapa persentase kendaraan yang dipakai mengantar sapi ke pemotongan atau peternakan dibandingkan kendaraan pribadi dan transportasi umum?

Atau dalam skala lebih besar, dibandingkan persentase karbon yang dilepaskan oleh pabrik-pabrik?

Ada satu ulasan menarik milik Frank M. Mitloehner, seorang profesor dari jurusan Animal Science University of California, bahwa ternyata penelitian FAO (Food and Agriculture Organization), salah satu organisasi di bawah PBB, tentang jumlah emisi Carbon yang dihasilkan daging sapi mencapai 14,5% adalah SALAH.

https://www.google.co.id/amp/s/theconversation.com/amp/dampak-makan-daging-terhadap-perubahan-iklim-sebenarnya-tidak-sebesar-yang-kita-bayangkan-113857

Prof Frank menyatakan bahwa kalaupun orang se-Amerika Serikat semua tidak makan sapi pun, emisi karbon tersebut hanya akan berkurang 0,5%!

Penduduk Amerika, 331 juta jiwa, tidak makan steak, burger, rendang sapi, empal, bistik, dll dan itu hanya mengurangi 0,5% !

Daripada kayak begitu, sepertinya lebih efisien jika PBB meminta seluruh anggotanya menutup 10 pabrik per tahun.

Bisa juga dengan membatasi produksi kendaraan berbasis bahan bakar minyak hingga 50% per tahun.

Plus, tiap-tiap negara haruslah melarang pemakaian kendaraan dengan mesin yang umurnya sudah lebih dari 10 tahun.

Menurut saya, itu lebih relevan daripada mengajak orang makan biji-bijian, sayuran, atau kacang-kacangan seperti yang dipaparkan Bapak William Wongso.

Coba jelaskan kepada saya;
Sayuran termasuk dalam kategori tumbuhan. Mereka memproduksi oksigen. Kalau mereka kita makan dan cabut sampai akarnya, bukannya produsen oksigen malah akan berkurang?

Sementara sapi maupun hewan-hewan lain di dunia ini, menghasilkan CO2. Kenapa tidak kita makan hewan saja supaya mengurangi emisi karbon?

Walaupun dalam tataran pola diet, konsep Makanan Ramah Iklim itu sangat baik namun saya rasa agak berlebihan jika dijadikan 1 frase dengan mengurangi bahaya global warming.

Kenapa Clubhouse Cuma Ada di iPhone?

Pandemi jadi ajang para techpreneur untuk mengembangkan aplikasi social networking.

Tik Tok makin viral.
Twitter makin kenceng.
Zoom.
Signal.
Podcast.
Dan terakhir Clubhouse.

Clubhouse ini aplikasi yang menyediakan ruang buat ngobrol.
Jadi semacam Zoom tapi suara doank.
Kayak Twitter tapi ngga ada karakter buat diketik.
Kayak WA Group tapi lebih terbuka, ngga harus diinvite (kalau emang obrolan terbuka).
Kayak Podcast tapi bisa interaktif.
Kayak Facebook Messenger tapi ngga mesti temenan.
Kayak Tiktok tapi ngga joged2. Dan ngga ada Nia Ramadhani-nya.

Clubhouse ini udah ada dari Maret tahun kemarin. Tapi baru merebak per akhir tahun 2020. Yang bikin? Pengusaha media Paul Davidson dan software engineer-nya Google, Rohan Seth.

Isinya warbiyasak. Kamu bisa denger Anya Geraldine ngeluh soal banjir yang “getting worse” dan dia lagi ngungsi di sebuah hotel mewah. Duh, kita mah apa yak, paling bagus juga ngungsi di lantai 2.

Atau dengerin Raditya Dika sama istrinya bahas soal beda cewe sama cowo dalam mengelola keuangan. Dalam hal ini; shopping.
Saya mah simple Bang, ngatur keuangan: ngga usah beli apa-apa kecuali buat makan sehari-hari.

Atau bagaimana para selebgram berlibur di tengah pandemi. Begitu pulang langsung OTG.

Ini terdengar bagaikan sinetron live di kuping saya!

Tapi, jangan buru-buru mau install.
Karena saya coba cari di Playstore ga nemu.
Terus tadi saya denger di mana?
Dari hp temen saya yang pake Iphone.

Iya, jadi Clubhouse ini baru bisa dipake sama pengguna Iphone. Jadi buat saya Android user ini Clubhouse cuma jadi aplikasi temporer yang baru bisa saya nikmati kalau saya pinjem hp temen saya.

Padahal, seru juga ngebayangin bikin komunitas ngobrol yang ngga terlalu ngabisin kuota dan batre dengan ga ada visualnya.

Tapi saya paham sih kenapa buat Iphone dulu. Karena si Seth Rohan ini kan orang Google dulunya. Sementara Playstore kan panjangannya Google Playstore. Klo dia keluar dari Google masa ya mau launching aplikasi dari Google?

Wkwkkwk ngaco ya.

Kedua, Iphone users walaupun penggunanya lebih sedikit daripada Android users, tapi isinya rata-rata orang kelas menengah ke atas. Dan selebriti jelas masuk kelas menengah ke atas. Walhasil, Clubhouse ini cepet booming.

Kenapa selebriti suka pake Clubhouse ? Menurut saya sih karena audience mereka jadi ke-filter dari kelas sosial ekonominya. Jadi istilah kerennya; se-frekuensi.

Emang ada sih, orang kaya pake Android. Dan ngga semua HP Android itu murahan. Pernah denger kan orang beli Huawei P-30 yang katanya kameranya Leica itu? Yang harganya 20 jutaan itu? Cuman biasanya selain punya Huawei P-30 itu, dia juga punya Iphone 12, Iphone 12 Pro, dst 😂

Perlu diinget juga, bahwa HP Android ada juga yang kayak Advan, yang harganya ga sampe cetiao.

Pernah liat tukang nasgor hpnya iphone? Atau driver gojek pake iphone? Ga pernah. Taruhan, ga pernah. Karena aplikasi buat driver gojek cuma ada di Playstore.

Ketiga, bagaimana iPhone dikategorikan sebagai HP yang menentukan kelas menengah ke atas?

Saya nih kalau mau langganan aplikasi bulanan dari Samsung, bisa bayar pake pulsa.
Di Iphone ga bisa. Mesti pake kartu kredit.

Nah, jadi tau kan kenapa banyak selebriti join Clubhouse? Ya, karena eksklusivitasnya.

Terus pertanyaan selanjutnya, masih ada ngga nih yang jual iphone 3 seken?