Terlilit ‘Satu Cinta’

Armband One Love di World Cup 2022 Qatar

We only love women in our national team“, jawaban Neymar Jr disambut riuh tawa media.
Pemain Brazil itu menanggapi pertanyaan awak media perihal kegaduhan Armband One Love yang dipakai beberapa negara kontestan yang sebagian besar Eropa Barat, seperti Belgia, Inggris, Jerman, Wales, Belanda, Swiss, Perancis, dan dari Eropa Utara, Denmark.

Perhelatan akbar sepakbola yang ditunggu-tunggu sejak 2018 lalu, menjadi sirkus media dengan tambahan isu LGBTQ+ Campaign di dalamnya.

Dimulai dari laga Inggris vs Iran. Kapten Inggris Harry Kane ngotot mengenakan Armband One Love di lengannya sebagai tanda kapten. Alasan mengapa pemain Tottenham Hotspurs ini kekeuh mengenakan ikat motif rainbow adalah untuk memerangi diskriminasi LGBTQ yang terjadi di Qatar. Untuk ini Tim Inggris rela membayar denda FIFA demi tetap menyuarakan Gerakan One Love ini. Tetapi ketika FIFA tidak minta denda melainkan akan mengganjar Kartu Kuning, maka Harry Kane dkk mundur teratur dan melepas ikatan pelangi di lengannya.

Menyusul Harry Kane, pada match selanjutnya, Jerman vs Jepang, Jerman juga ingin memasang lilitan One Love di lengan Kapten Manuel Neuer. Ketika akhirnya dilarang keras, pada akhir pertandingan seluruh tim membungkam mulut mereka sebagai subliminal message bahwa mereka telah dibungkam untuk membela Hak LGBTQ. Ironisnya, Jerman kalah 1-2 oleh Jepang. Sehingga, pesan simbolik itu ditanggapi nyinyir oleh Netizen, “Tim Jerman tahu diri bahwa mereka telah dibungkam oleh Jepang.”

Ketika Timnas dari negara-negara di atas tidak diperbolehkan mengenakan Armband One Love, maka menteri-menterinya yang menggantikan posisi Kapten itu untuk mengenakan armband. Salah satunya Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser.

Dalam hal ini, untung Indonesia tidak ikut Piala Dunia. Atau terpaksa Bapak Luhut mengenakan armband rainbow.

Desas-desus di balik ngototnya asosiasi sepakbola di Eropa mengkampanyekan One Love di Piala Dunia 2022 mulai mencuat. Greget ini tidak lepas dari aroma uang sponsorship dari franchise supermarket terbesar di Jerman, REWE. Ternyata campaign ini adalah salah satu bentuk kesepakatan Bos REWE dengan pembesar DFB (Deutch Fusball-Bund). Karena adanya pelarangan ini, maka REWE mencabut sponsorships padahal mereka sudah menyuplai ‘nutrisi’ beberapa tim Eropa selama 15 tahun.

Ribut-ribut gelang lengan ini akan dibawa oleh DFB ke Arbitrasi Olahraga Internasional (CAS), di mana mereka akan menuntut FIFA.

Asal muasal seruan One Love hingga ke lapangan ini berawal dari rilis Human Rights Watch sebulan lalu tentang kekerasan yang dilakukan oleh polisi Qatar terhadap kaum LGBTQ, sepanjang 2019-2022. Di Qatar, Komunitas LGBTQ dianggap komunitas yang ilegal.

Hal ini dianggap pelanggaran HAM oleh banyak pihak, termasuk 7 asosiasi sepakbola negara Eropa.

Ya..tapi kalau di setiap perhelatan sepakbola, semua campaign bisa masuk asal ada duit besar, khawatirnya 4 tahun lagi tiba-tiba jersey Thiago Silva ada gambar Erick Thohir atau Kepak Sayap Kebhinekaan.

Atau Messi mungkin pakai sepatu dari tumbuh-tumbuhan bertuliskan Save the Planet.

Kayaknya kalau kita nonton bola, enakan bener-bener fokus ke performa pemainnya, penguasaan lapangan, sampai ke kualitas permainannya.

Kalau pake ada isu-isu begini kan, Neuer cs jadi berasa cupu. Udahlah biar aman, World Cup diadain aja di Rusia, biar pada anteng mainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: