Ketika Slank Tak Lebih dari Bang Bang Tut

“Banyak yang underestimate Abdee Slank yg ditunjuk jadi Komisaris Telkom. Music, art, culture sangat erat dengan industri digital saat ini. Hanya orang orang yg berpikir ala ala Dinosaurs yg tidak melihat hal ini.

Abdee Slank punya rekam jejak di sini, gak banyak yg tau karena dia gak mau sotoy atau ngerasa paling pas untuk dijadiin Komisaris Telkom seperti kebanyakan Dinousaurs nyinyir di jagat Sosmed yg bentar lagi pada punah digilas jaman”

-Hamba Allah, Generasi Baby Boomers-

Pagi hari saya rusak membaca status Facebook di atas, yang diposting salah satu FB Friend saya, yang kebetulan usianya sudah senior.

Menurutnya Abdee Slank sah-sah saja menjadi komisaris Telkom karena Abdee sudah bermusik sejak lama dan mengetahui seluk-beluk permusikan. Apalagi Telkom punya produk-produk digital, katanya.

Astaga.

Saya rasanya ingin menggebrak meja dan menyatakan bahwa beliau ini mengalami sesat pikir dan tidak memiliki kemampuan logika yang baik dalam memandang permasalahan.

Yang kedua, beliau juga tidak mengerti apa yang beliau bicarakan dalam konteks kekecewaan fans Slank atau Slankers yang bukan hanya berasal dari uneducated grass root, melainkan juga dari intellectual grass root.

Ketiga kalau boleh saya tambahkan, kalau kedua hal di atas ternyata tidak benar adanya, maka beliau ini sebetulnya hipokrit.

Begini, ya. Sejak kapan komisaris BUMN harus punya kredibilitas dan kapasitas untuk menduduki jabatan itu? Tidak usah omong kosong. Bisa dilihat dari masa ke masa, jabatan itu memang sengaja disediakan untuk diisi oleh supporting partners atau sponsors dari pemenang Pemilu.

Kemudian yang kedua, apa urusannya lama bermusik dengan legitimasi menduduki Komisaris Telkom karena nantinya dianggap bisa ngurusin konten, marketplace, dll? Ya kalau gitu, sekalian saja Bimbo jadi Komisaris Telkom. Terus Bapak ini paham tidak ya, kalau Komisaris tugasnya bukan seperti marcom. Tetapi memberikan saran-saran sesuai expertise-nya dalam penentuan strategi perusahaan secara keseluruhan.

Kemarahan saya lebih kepada saya tidak percaya ada orang dengan pendidikan yang sangat baik, lulusan luar negeri, posisi di pekerjaan tinggi, bergerak di bidang ekonomi pula, kok bisa berpendapat ngasal begitu.

Ya, walaupun saya tahu sih pendapat beliau sama persis dengan pendapat Triawan Munaf, kepala Bekraf.

Nah, Beliau ini kebetulan hobi main musik dan jago sebagai drummer pada masanya. Dan referensi musik yang kadang beliau sebutkan di antaranya White Lion, Van Hallen, dan Metallica. Mengingat beberapa musisi favoritnya tersebut, kejengkelan saya pun mereda.

Oh ya, beliau beda generasi sehingga tidak paham rekam jejak Slank. Meskipun, seharusnya dengan usianya dan latar belakang sosial ekonominya, beliau bisa saja berkomentar setelah mencari tahu lebih banyak informasi.

Saya ingat ketika Slank dulu konser di Jepang pada tahun 2000.

Saya baca liputan indepth-nya di majalah Hai. Saking dalamnya liputan itu, sampai detail-detail-nya saya ingat. Betapa mereka baru pertama konser di Jepang di tengah musim dingin pada Februari itu. Bibir mereka sampai kering dan pecah-pecah sehingga harus pakai lipgloss. Dan itu juga kali pertama mereka pakai lipgloss.

Saya menyimpulkan kala itu, bahwa Slank adalah anak gedongan yang sengaja menurunkan kelas sosialnya. Menjadi kelas middle-lower demi bersama dengan para akar rumput melawan arogansi dan kesewenang-wenangan Pemerintah.

Status sosial mereka yang sesungguhnya bisa dilihat dari outfit mereka selama konser di Jepang. Dengan boots dan jaket bulu yang kelihatan tidak murah. Padahal ‘kan biasanya pakai baju belel serampangan. Hidup sederhana di basecamp-nya di gang Potlot di bawah asuhan Bunda Ifeth.

Dugaan saya menemukan jawaban. Ketika saya baca artikel lain yang menceritakan bahwa Bimbim ternyata adalah cucu mantan Gubernur DKI, Soemarmo Sosroatmojo, gubernur DKI sebelum Ali Sadikin.

Di tengah konser, Slank mengobarkan semangat nasionalisme dengan membawakan lagu nasional yang disambut dengan koor penonton, yang rupanya kebanyakan mahasiswa dan pekerja Indonesia yang hidup di Jepang. Konser di Jepang itu sukses besar bagi Slank dan membawa mereka ke konser-konser Internasional lainnya, seperti di Malaysia, Thailand, dan lainnya.

Saya yang sudah lama menjadi fans Slank—meskipun menolak disebut Slankers—semakin penasaran mengeksplorasi arti dari lagu-lagu Slank.

Saya mengagumi kreativitas dan kecerdasan mereka menangkap isu sosial sebagai bahan untuk berkarya. Dan di saat yang sama, mereka menggunakan karya mereka untuk menyampaikan isu-isu sosial.

Misal, Kritis BBM, Bang Bang Tut, Kalo Aku Jadi Presiden, Orkes Sakit Hati, Gosip Jalanan, Mars Pemilu, dan masih banyak lagi. Bahkan albumnya pun kerap bertajuk kritik sosial, misal Mata Hati Reformasi. Jadi, Slank itu seperti Iwan Falls di era saya hanya saja versi hardcore.

Ketajaman lirik lagu-lagu Slank terhadap penguasa konsisten mereka serukan hingga saat pemerintahan SBY. Mereka selalu mengkritisi upaya-upaya pemerintah untuk secara bertahap memreteli otoritas KPK.

Tapi sejak tahun 2013, sikap Slank sudah mulai mencurigakan dengan memperlihatkan keberpihakannya kepada calon penguasa. Bahkan menjadi pengisi acara utama bagi kegiatan Kampanye Jokowi-JK kala itu. Tidak sampai di situ, Slank menggubah lagu Salam 2 Jari yang seolah menjadi simbol penyerahan loyalitasnya kepada sang Petahana.

Yang lebih ironis, di dalam konser itu dibacakan apa yang disebut Manifesto Slankisme. Slankisme adalah paham yang selalu disuarakan oleh Slank dan isi dari paham itu ditulis di dalam 13 Manifesto-nya pada tahun 2005.

“Manifesto Slank:

1. Kita harus kritis
2. Berjiwa sosial
3. Penuh solidaritas
4. Saling setia
5. Selalu merdeka
6. Hidup sederhana
7. Mencintai alam
8. Manusiawi
9. Berani untuk beda
10. Menjunjung persahabatan
11. Punya angan yang tinggi
12. Menjadi diri sendiri
13. Membuka otak dan hati kita”

Maka, benarlah teori Antonio Gramsci dalam Teori Hegemoni Kultural-nya. Bahwa cara paling efisien menundukkan lower society dalam kelas sosial, bukan dengan kekerasan. Tetapi dengan cara memegang pentolan-nya dan memasukkan mereka ke dalam sistem kekuasaan. Dengan demikian, pemerintahan Jokowi mendapat anugerah buy one get one (million) dengan merengkuh Slank sebagai influencer mereka.

Tidak hanya mendapatkan jutaan pemilih, dengan cara ini Jokowi juga berhasil memampatkan mortar yang selalu memuntahkan orasi-orasi kritis di setiap era pemerintahan.

Tidak salah jika Abdee menjadi Komisaris Telkom. Ia pantas mendapatkan jabatan tersebut sebagai koordinator dan bagian dari kampanye politik Jokowi.

Akhirnya manifesto Slank harus dimaknai dengan mengartikan bahwa kata “selalu merdeka” berarti juga merdeka menentukan arah keberpihakannya, apakah pada rakyat atau penguasa. “Berani beda” dengan dirinya yang dulu.

Atau “hidup sederhana” dengan ukuran siapa. “Membuka otak dan hati kita” terhadap segala peluang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan domestik.

Dan tepat sewindu dari saat itu, manifesto-manifesto Slank ternyata terbukti telah Terbunuh Sepi di antara para Tong Kosong yang nyaring bunyinya.

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: