Babi Ngepet : Sebuah Bukti Kebejatan Media

Adam Ibrahim menjawab serbuan pertanyaan wartawan dengan wajah letih. Seolah tak cukup Polres Metro Depok menginterogasinya selama 1×24 jam, kini ia harus dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang baginya pun tak memiliki jawaban.

“…timbul lah di hati dan pikiran saya dan kita semua ini hal tersebut, agar selesai permasalahan yang ada di tempat kita,” jawab Adam pasrah.

Pria yang sehari-harinya menjadi pemuka agama ini hanya ingin memberikan solusi atas kegundahan tetangganya yang rupanya kehilangan uang sebesar Rp 1 juta sebanyak dua kali.

Adam Ibrahim

Ia pun menjelaskan bahwa kemungkinan uang tetangganya dicuri tuyul atau babi ngepet. Permasalahannya, Adam tidak mengatakan itu sambil lalu. Entah dapat ide dari mana, ia kemudian merekayasa cerita supaya tetangganya dan orang-orang sekampung percaya pada apa yang dikatakannya.

Adam mengajak rekannya, Firman, untuk membuat skenario Babi Ngepet ini. Tak hanya berdua, tujuh orang Bapak-Bapak lainnya turut andil menyukseskan ide Adam Ibrahim.

Bermodal Rp 1.2 juta (babi + ongkir), Adam cs mengarang cerita bahwa mereka kehilangan uang dan melihat pergerakan Babi Ngepet yang dicurigai sebagai maling di lingkungan mereka.

Pada 27 April 2021, Adam dan teman-temannya menjalankan rencana mereka dengan melepas babi dan mengejarnya beramai-ramai tanpa busana. Setelah tertangkap, babi itu mereka hajar tanpa ampun.

Video penangkapan Babi Ngepet itu menjadi viral karena beredar luas di hampir seluruh platform media sosial. Makin heboh, setelah berulang kali diulas sebagai fenomena aneh di berbagai media nasional. Masyarakat menjadi gempar.

Barulah belakangan ketahuan, isu Babi Ngepet hanyalah fiksi karya Adam dan 8 orang lainnya.

Atas perbuatannya, Adam terancam Pasal 14 ayat 1 dan atau ayat 2 UU nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana terancam kurungan 10 tahun penjara.

Apakah Adam Ibrahim dan ke-8 temannya bersalah?
Benarkah mereka menyebarkan hoaks?
Apakah pidana itu setimpal dengan perbuatan mereka?

Menjawab pertanyaan pertama, katakanlah Adam Ibrahim dan 8 orang temannya bersalah. Tetapi bersalah kepada siapa? Karena permasalahan Babi Ngepet ini sebetulnya hanya cukup untuk internal lingkungannya. Hanya untuk meyakinkan tetangganya dan meyakinkan kampungnya bahwa dia layak menjadi seorang Tokoh. Sesederhana itu.

Apakah Adam melakukan kriminalitas dengan dalih adanya Babi Ngepet? Misal, mencuri kemudian menuding Babi Ngepet sebagai pelakunya. Apakah ia melakukan itu?
Tidak.

Apakah Adam menyebarkan isu tersebut ke seluruh medsos layaknya buzzer walaupun isu itu bohong?
Tidak.
Adam menyebarkan untuk kalangannya sendiri.

Lantas, siapa yang menyebarkan hoaks itu?
Media.

Media-lah yang membuat isu yang sangat domestik dan minor ini menjadi viral dan seolah masif. Media memiliki coverage yang lebih luas untuk menjangkau masyarakat di seluruh Indonesia. Tak hanya di Sawangan Depok, kini berkat media online maupun TV, nama Adam Ibrahim dan Babi Ngepet-nya bergaung di seluruh nusantara.

Tanpa menganalisis dampak yang akan ditanggung Adam, media besar melakukan justifikasi kepada Adam. Pada wawancara-wawancara live by phone, presenter bertanya: “Bagaimana anda bisa melakukan perbuatan itu? Apa motif anda?”

Bayangkan, Anda berbohong kepada tetangga. Tetangga anda percaya. Kemudian cerita anda terendus media dan cerita anda disebarkan secara nasional. Kemudian mereka hubungi anda untuk konfirmasi. Setelah anda konfirmasi, anda dituding melakukan kejahatan atas masalah pribadi anda sendiri sehingga anda dipidanakan.
Dan media tidak bertanggung jawab atas nasib anda.

Pertanyaannya, ya memang kenapa kalau Adam berbohong?

Memang kenapa kalau Adam bilang ada Babi Ngepet? Hoaks apa yang diciptakannya dan apa implikasinya untuk kehidupan bermasyarakat kita?

Emang apa sih Hoaks?

A hoax is a falsehood deliberately fabricated to masquerade as the truth. It is distinguishable from errors in observation or judgment, rumors, urban legends, pseudosciences, and April Fools’ Day events that are passed along in good faith by believers or as jokes ( Brunvand, Jan H., 2001)

Jadi ada unsur humor di dalam memandang hoaks itu. Yang mana kebenaran atas hoaks itu menjadi judgement kita sendiri berdasarkan data dan pengalaman yang kita dapatkan.

Setelah timbul kritik pemberitaan Babi Ngepet, media massa kita ‘ngeles’ dengan mempertanyakan kenapa masyarakat percaya Babi Ngepet. Lah, yang menayangkan siapa?

Agenda Setting-nya bagaimana?

Jadi di dalam menyusun pemberitaan, media memakai agenda setting. Di dalam Teori Agenda setting yang dikemukaan Mc Combs dan Donald Shaw diungkapkan bahwa apa yang dianggap penting bagi media maka dianggap penting juga oleh publik.

Kalau mereka menganggap penting isu Babi Ngepet, publik tentunya juga akan mempercayai bahwa isu Babi Ngepet itu penting. Dan besar kemungkinan Babi Ngepet benar-benar nyata adanya.

Memang masalahnya apa jika video Babi Ngepet itu beredar luas? Apakah anda resah dengan adanya Babi Ngepet?

Rasa-rasanya kita tidak resah akan eksistensi seekor Babi Ngepet. Yang kita resahkan, apabila ada kesalahan informasi mengenai tanggal mudik. Kesalahan informasi mengenai distribusi bantuan sosial.

Tapi lihatlah dari bahasanya. Jika orang besar menyebar informasi yang tidak valid, maka disebut dengan KESALAHAN INFORMASI.
Sementara orang kecil salah menyebarkan informasi disebut menyebarkan Hoaks. Dan demikian ia pantas dipidana, bahkan sampai terancam 10 tahun penjara.

Jika perbuatan Adam dikenai pidana 10 tahun, mengapa Uya Kuya dengan hipnotisnya tidak dikenai pidana juga?

Atau bagaimana dengan rekayasa kawin cerai artis? Bukankah itu masalah pribadi yang juga diblow up media? Tetapi mengapa ketika tahu bahwa kawin cerai artis itu bohong, tak ada satupun isu tersebut yang tertulis di Berita Acara Pidana sebagai Menyebarkan Berita Bohong atau Hoaks.

Dan bukankah Pejabat kita sering salah informasi? Mantan Menkes Terawan misal, yang mengatakan bahwa Covid bukan penyakit berbahaya di awal pandemi? Apakah itu less harmful dibandingkan hoaks Babi Ngepet?

Media massa mempunyai kekuatan dalam mempengaruhi publik. Menurut Harold D. Laswell dalam karyanya The Structure and Function of Communication in Society mengatakan bahwa cara terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan: Who Says What in Which Channel To Whom With What Effect artinya siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa.

Media massa memberitakan Babi Ngepet sambil mem-bully pelakunya padahal teori yang menjadi dasar pemberitaan saja mereka tidak mengerti. Apa bedanya dengan Adam Ibrahim dan teman-temannya?

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

One thought on “Babi Ngepet : Sebuah Bukti Kebejatan Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: