Sillicon Valley Bak Suntikan Silikon Bagi Indonesia

Setidaknya sudah dua kali nama Sillicon Valley dicatut untuk presentasi Proyek Pemerintah tanpa pemberitahuan kepada Amerika Serikat. Yang pertama, Sillicon Valley Sentul tahun 2016. Dan yang kedua, Sillicon Valley Sukabumi tahun 2021 ini.

Kebayang ga sih, pemerintah Amerika bikin perkebunan sayuran terus dinamai Kopeng Kentucky ? Atau bikin pelabuhan ikan besar dinamai Muara Angke Los Angeles?

Kalaupun mereka ga malu namain komplek industrinya pake nama tempat negara lain, mereka pasti ijin dulu secara protokoler.

Anyway, Sillicon Valey ala Sentul tadi, nama aslinya adalah Sentul City Tech Center. Ngga main-main, dibangun di tanah seluas 140 hektar.

Sementara Sillicon Valley Sukabumi, yang lahannya katanya sebelahan sama PTPN V (jadi mungkin nanti bisa perluasan juga kalau mau), luasnya lebih gila lagi, 8x lipatnya!
Awhh awhh awhh.. ga kuku, kan?

Satu hektar sawah menghasilkan 5,7 ton padi. Anda bayangkan, berapa ton padi yang bisa dihasilkan di tanah seluas 140 hektar? Berarti hampir 800 ton. Wah, wah ngga perlu impor beras donk ya. Kalau 888 hektar? (Angka cantik tuh ya, pasti yang punya taipan—emang iya!) Berarti bisa 5000an ton!

Tapi beras kan harganya ga seberapa. Jadi, akhirnya dibuatlah lahan industri untuk teknologi. Sekarang pemerintah lagi cari-cari investor untuk pembangunannya. Dibantu oleh Amartya Karya sebagai kontraktornya, proyek di Cikidang dan Cibadak ini dinamai Bukit Algoritma.

Istilah-istilah yang dipakai kok rumit amat ya. Tapi kira-kira paham betul ga artinya?

SILLICON VALEY

Sillicon Valley itu kan nama kawasan industri di San Fransisco, California, Amerika Serikat. Tau ga industrinya apa? Pada tahun 1971, nama itu pertama kali dimuat di koran Electronic News dan dibuat oleh Don Hoeflr yabg kemudian dipopulerkan oleh Ralph Vaerst, pengusaha besar di California.

Nama itu mengacu pada kawasan industri besar di San Fransico Bay yang bergerak di bidang pembuatan Silikon sebagai material semi-konduktor. Semi-konduktor buat apa? Semi-konduktor untuk komponen kelistrikan pastinya 😂

Tapi lebih spesifiknya, untuk komponen kelistrikan pada perangkat komputer, telekomunikasi, dll.

Pada perkembangannya, memang banyak perusahaan teknologi yang berkantor di kawasan Sillicon Valley ini. Mulai dari IBM, Intel, Microsoft, Apple, Google, Facebook, Visa, Apple, dll.

Jadi ada suatu ekosistem yang sudah terbentuk di situ. Antara kawasan industri untuk produksi material, perusahaan-perusahaan konsumen mereka, perusahaan-perusahaan yang juga sudah mature yang terkait dan juga bergerak di bidang yang sama.

Ketika pemerintah mengadopsi term Sillicon
Valley pada Sentul City atau Cikidang ini, apakah akan membangun ekosistem yang sama?

Atau maksudnya hanya membangun pusat inkubasi bagi digital start up dan memaksa perwakilan para unicorn di Indonesia seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan teman-temannya untuk berkantor di sana?

Kami yakin yang pertama menyambut dengan antusias pastilah Ruang Guru.

Jadi iklan deh

BUKIT ALGORITMA

Pertama kali mendengar istilah tersebut, rasanya seperti sesuatu yang angelic. Heavenly.
Holy, begitu.

Semacam Bukit Thursina.
Atau Bukit Safa dan Marwa.
Subhanallah.

Tapi, kalau-kalau Bukit di atas kan memang konkret adanya dan jelas kegunaannya sebagai situs-situs keagamaan sekaligus sejarah.

Bukit Thursina dari asal kata Bukit dengan banyak pepohonan zaitun (Thursina). Bukit tersebut menjadi ikonik karena dipercaya sebagai tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu yang disebut orang Yahudi Ten Commandments.

Sementara Bukit Safa artinya batu yang licin, Marwa batu putih. Keduanya menjadi tempat sa’i, ritual umat Muslim ketika Haji/Umroh, yakni jalan bolak-balik 7x. Mencontoh kisah Siti Hajar yang bolak-balik 7x untuk mencarikan Ismail air minum.

Nah, kalau Bukit Algoritma ini kira-kira bagaimana maksudnya?

aslinya

Algoritma sendiri simplenya adalah big pattern. Serangkaian pola yang membentuk suatu logika yang bisa dijadikan acuan sebuah otomasi.

Dari kata itu, seharusnya yang dibentuk adalah suatu industri besar teknologi. Bukannya hanya kawasan perkantoran. Tapi lebih dari itu, suatu ekosistem teknologi yang saling berintegrasi untuk membangun industri otomasi.

Wih, keren banget ya.

Tapi, emang mau bikin apa sih?
Robot? Alat perang? Mobil listrik? Atau apa??

Jangan sampe udah keren-keren namanya, ternyata akhirnya cuma jadi tempat inkubasi startup. Atau kawasan industri macam JIEP atau Karawang. Atau ternyata malah ga jadi apa-apa alias mangkrak.

SUNTIK SILIKON BAGI INDONESIA

Tapi kayaknya, istilah teknologi dan digital memang jadi dua istilah yang membuat para generasi X dan baby boomers di kalangan elite politik ini klepek-klepek.

Entah karena sesuatu yang baru buat mereka, atau karena segala sesuatu di dalamnya intangible. Kalau kami sebagai gen Y dan gen Z sih ngerasanya biasa aja ya.

Sillicon Valley ala Sentul atau Sukabumi tidak tahu arahnya ke mana selain yang jelas pada saat ini; mengumpulkan investasi. Silikon yang dimaksudkan jadi bukan silikon yang material semi-konduktor. Tapi silikon buat suntik payudara atau bokong.

Silikon untuk kecantikan.

Yah mudah-mudahan negeri ini menjadi semakin cantik setelah mendapat Suntik Silikon Valley tadi.

Amien Ya Robbal Alamin.

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: