Ketika Komedi Jadi Ajang Kompetisi

Stand-Up Comedy itu kalau dikomentarin dan dinilai berdasarkan selera dan tingkat humor juri, jadi berasa ga lucu ya.

Kebayang ngga sih, kita berusaha ngelawak terus dikomenin, “Becandaan kamu tuh ngga nyambung satu frase dengan frase lainnya.”

Atau “Kamu harus lebih ekspresif dan memainkan tone kamu supaya penonton ikut larut dalam emosi.”

Apakah para juri ini tidak pernah lihat penampilan Dylan Moran? Dylan Moran tiap open mic selalu kayak orang mabok dengan aksen Irish yang kental dan nada yang nyaris flat. Joke-nya sangat segmented, humornya hanya bagi orang yang update kondisi sosial politik. Tapi kursi penonton di luar negeri hampir selalu penuh.

Saya jadi deg-degan tiap liat Stand Up Comedy Indonesia. Bukan karena penampilan pesertanya melainkan komentar jurinya. Duh, ini bikin gue ilfeel ga ya sama jokes peserta?

Kaya waktu liat Stand Up Comedy semalam di Kompas TV. Tadi malam temanya Liburan. Salah satu komika dalam standupnya marah-marah, kenapa temanya liburan. Padahal, dia bilang org desa kayak dia ga pernah kenal liburan.

Orang desa ya tiap hari kerjanya di sawah, ternak, kalau ga bertukang. Sesekali ada orang kota dateng; liburan. Liatin petani nanem padi atau mandiin kebo. Bikin risih, katanya. Suatu saat dia mau balas dendam, ajakin orang sedesanya ke kota. Ke perkantoran Sudirman dan liat orang kota pada meeting dari kaca ruangan 😂

Dibilang sama Raditya Dika, penampilannya kurang greget. Sama Abdel juga dibilang kalau itu bukan selera saya. Cuma Cak Lontong aja yang bilang itu lucu banget. Cak Lontong emang idola saya.

Seandainya saya yang jadi juri, saya bakal tepuk tangan bgt karena gaya dia bercanda mirip banget sama Ronny Chieng, comic asal Australia yg sebetulnya Cina. Ronny selalu bergaya marah-marah, menggebu-gebu, satir, agak kasar, smart, dan kritis terhadap kondisi sosial. Yang gila-nya, mengkritik kondisi sosial di Amerika selama open mic roadshow di Amerika. Dan tiketnya selalu sold out.

Kebalikan sama Trevor Noah asal Afrika Selatan yang biasanya menertawakan kebiasaan orang-orang Afsel. Trevor selalu bercerita dengan kalem, lucu, dan hampir tidak pernah keluar kata kasar. Sekarang dia berhasil jadi host di salah satu program TV terbesar di Amerika.

Keduanya menjadi komika besar dengan style-nya sendiri-sendiri.

Jadi menurut saya sama kayak menulis, komedi itu kalau diarahkan apalagi dikompetisikan jadinya maksa. Ga natural. Kadang saya rindu jaman Srimulat di mana semua orang ketawa meskipun becandaannya wagu.

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: