Legalitas Investasi Miras : Perlu Ga (Dipublikasikan) ?

Presiden Joko Widodo baru-baru ini melegalkan produksi miras di 4 daerah.

Bali.
NTT.
Sulawesi Utara.
Papua.

Masyarakat en netizen pun sontak heboh membaca kabar tersebut.

Sebetulnya apa sih yang dihebohin?

Sedari dulu, Undang-Undang kita memang tidak pernah mencantumkan pelarangan konsumsi minuman keras atau minuman beralkohol.

Kalau konsumsi air keras.. nah itu baru ngga boleh. Karena di Indonesia air keras bukan buat diminum tapi disiramin ke muka orang. Eh.

Nah, perihal minuman alkohol tadi.
Sebagaimana termaktub dalam beberapa UU lawas, konsumsi alkohol cuma sebatas tidak boleh dikonsumsi di depan umum. Jadi bolehnya di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menyatakan bahwa tindak pidana minuman keras diatur dalam Pasal 300 dan Pasal 536 antara lain bahwa :

Pasal 300 KUHP.
“Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun atau denda sebanyak banyaknya Rp. 4.500 di hukum :
Barang siapa dengan sengaja menjual atau menyuruh minum-minuman yang memabukkan kepada seseorang yang telah kelihatan nyata mabuk;
Barang siapa dengan sengaja membuat mabuk seorang anak yang umurnya di bawah 16 tahun; dan
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan dengan sengaja memaksa orang akan minum-minuman yang memabukkan.

  1. Kalau perbuatan itu menyebabkan luka berat pada tubuh, sitersalah di hukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.
  2. Kalau si tersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatannya ia dapat dipecat dari pekerjaannya itu.”

Pasal 536 KUHP.
Barang siapa yang nyata mabuk berada dijalan umum dihukum denda sebanyak-banyaknya Rp. 225.
Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lalu satu tahun, sejak ketetapan hukuman yang dahulu bagi sitersalah lantaran pelanggaran berupa itu juga atau pelanggaran yang diterangkan dalam Pasal 492, maka hukuman denda itu dapat diganti dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari.
Kalau pelanggaran itu diulang untuk kedua kalinya dalam 1 tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang pertama karena ulangan pelanggaran itu maka, dijatuhkan hukuman kurungan selama-lamanya dua Minggu
Kalau pelanggaran itu diulang untuk ketiga kalinya atau selanjutnya di dalam 1 tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang kemudian sekali lantaran ulangan pelanggaran untuk kedua kalinya atau selanjutnya, maka dijatuhkan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan.”

Ingatkah anda pada minuman AO alias Anggur Orang Tua dan Amer alias Anggur Merah?

Kedua minuman tersebut bisa beredar luas dari tahun 1948 dan tidak dihentikan peredarannya sampai sekarang. Tahu kadar alkoholnya? 19,7%.

Sekarang Jokowi melegalkan produksi arak di Bali, sopi atau Sophia di NTT dan Papua, serta ciu Cap Tikus di Sulawesi Utara. Kita mau bilang apa?

Padahal, mengacu pada undang-undang yang mengatur miras dikatakan juga bahwa jika seseorang memproduksi minuman beralkohol dan berbahaya bagi konsumen maka akan dipidana.

Cap Tikus secara sertifikasi pangan jelas tidak ada, kandungan alkoholnya sampai 40%. Sopi kandungan alkoholnya 30%. Dan arak Bali kandungan alkoholnya mencapai 40% juga.

Terus, bahaya ngga? Orang kita mah minum oplosan spiritus juga ga kenapa-kenapa. Jadi, bahaya atau ga bahaya itu tergantung konsumennya.

Secara rasa, duhhh.. beda jauh dengan Jack D, Jagermeister, Martell, Saphire Bombay, Knob Creek, apalagi Redemption.

Terus kok optimis banget bisa membawa arak atau ciu lokal ke kancah perdagangan miras internasional? Ekspor pisang ke Amerika aja gagal mulu. Yah mau bilang apa.

Mungkin daripada kita konsumsi produk luar lebih baik produk lokal.

Sambil clubbing, “Bro, Cap Tikus dulu kitaa..” Atau besok cewe-cewe milenial pesan, “Bloody Sopi ada ya?”

Konsumen tetap ada. Bahkan walaupun di setiap kitab suci ada larangan untuk konsumsi alkohol berlebihan, namun tetap saja umat beragama di Indonesia ini ada saja yang mengkonsumsinya. Lantas, apakah salah jika pemerintah membuka kran investasi produk miras?

Tidak salah secara undang-undang.
Tidak salah pula secara budaya.
Namun, tidak tepat secara etika.

Karena berbicara soal membuka kesempatan investasi, maka pemerintah harus mampu pula menyediakan iklim investasi yang nyaman bagi para investor; dalam hal ini investor miras.

Artinya, ke depan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meyediakan jalur distribusi termasuk perijinan bagi produk miras lokal tersebut.

Jika sudah berani membuka diri kepada investor, otomatis harus menyediakan market bagi produk yang di-invest. Apalagi, di dalam Perpres yang dikeluarkan tadi, investasi asing hanya boleh untuk produsen dengan kebutuhan modal 10 M ke atas. Jadi jangan kaget besok-besok kalau di warung sebelah tiba-tiba jual Arak Bali atau Cap Tikus. Semua boleh jual asal ada ijinnya.

Kemudian, berbicara dari sisi menggerakkan ekonomi lokal, justru tidak relevan. Karena, ekonomi lokal yang dimaksud itu —dalam hal ini perajin miras lokal rumahan—nantinya akan tergusur dengan adanya pabrik atau industri miras skala internasional.

Ngga mungkin donk, Bli Made bikin arak Bali 10.000 botol per hari di rumahnya?

Jadi penasaran juga nih.

Berdasarkan pertimbangan apa ya, beliau memasukkan industri minuman alkohol pada Daftar Penanaman Modal? Apakah hal tersebut dirasa perlu untuk mendukung aktivitas pariwisata? Secara dalam daftar di BKPM di atas, ada pula item “hotel bintang 5, hotel bintang 4, lapangan golf, dll.”

Tapi, memang sesuatu yang memabukkan memang lebih enak.
Mau itu mabok agama atau mabok nasionalisme. Atau bahkan mabok investasi.

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

One thought on “Legalitas Investasi Miras : Perlu Ga (Dipublikasikan) ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: