Akun Socmed Cewe-Cewe Sexy: Sekedar Sexy atau Ekshibisionis?

Perhatiin, ngga.. IG beberapa tahun ke belakang ini? Akun cewe-cewe kayak banyak banget menghiasi laman explore.

Wajar kalau wajah public figure terpampang di situ. Tapi ternyata di sela-sela Luna Maya, Dian Sastro, Raisa, dan Wulan Guritno cs, muncul pula wajah-wajah yang saya ngga tahu itu siapa.

Mereka pun lebih ngga tahu lagi saya siapa.
Tapi ada benang merah dari perempuan-perempuan asing penghias laman depan Instagram ini.

Pertama; Followernya banyak.
Kedua; Hobi pakai bikini atau tanktop.
Ketiga; Maaf.. rata-rata ‘boobs’-nya di atas ukuran normal.

Ada yang sadar dengan apa yang dia expose. Akhirnya cuman keleleran pake G-String plus kemeja transparan nulis caption, “Morning.. kamu yang baru bangun”

Ada juga yang caption-nya pake quote bahasa Inggris. “Don’t judge me because of how i look and what i wear.”


Mbak, we don’t judge you because of what you wear. No. Because u barely wear something.

Sulit untuk tidak menjadi sexist ketika dari pihak yang tidak mau kita sexist memancing dengan pose atau tampilan sexy.

Daam hal ini, kadang perempuan tidak satu suara dalam memandang feminisme.

Bahkan bisa dibilang bertolak belakang dalam memandang dirinya sebagai subjekkah atau objek.

Di satu sisi, ada perempuan-perempuan yang masih menjaga penampilan, meraih prestasi, berkontribusi pada masyarakat maupun negara.

Sementara di sisi lain, ada perempuan-perempuan yang justru mengumbar bagian tubuh sebagai objek penarik perhatian.

Sebenernya goalsnya apa sih ?
Supaya banyak follower, supaya dapat endorsement?
Antara eksistensi, aktualisasi, dan monetisasi diri?

Pemikiran yang mendasari Gerakan Feminisme salah satunya adalah pemikiran Marry Wallstonecraff dalam bukunya “The Right of Woman” pada tahun 1972 yang mengartikan Feminisme merupakan suatu gerakan emansipasi wanita, perbaikan kedudukan wanita, dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan wanita.

Persamaan Derajat.
Bagaimana derajat perempuan mau sama dengan laki-laki jika mau dijadikan objek pemuas nafsu lelaki?

Atau mungkin emansipasi dan persamaan derajat ini diartikan sebagai persamaan dalam hal hak menjadi ekshibisionis?

Saya jadi ingat waktu saya masih SMP, saya dan teman-teman saya melintas di sebuah jalan sepi. Di depan saya, sebuah mobil sedan parkir. Saya melintas di samping kanannya. Kagetlah saya, pria yang ada di dalam mobil itu membuka kaca jendela dan memperlihatkan kemaluannya. “WAAA!””
Saya pun langsung lari ketakutan bersama teman-teman.

Sekarang kejadian tersebut tidak lagi di jalanan sepi. Tetapi di media sosial. Yang bisa diakses berbagai umur dan kalangan. Bedanya si pelaku bukanlah pria, tetapi wanita.

Dan responnya pun berbeda, kalau saya dan teman-teman saya lari pontang-panting. Sementara di media sosial, ‘korban-korban’ ekshibisionisme-yang kebanyakan pria— justru komen “wah jadi bangun nih..”
“mau dong bobok sama mbaknya”
“yang masih pake honda beat, ngga usah ikutan nga***ng”

Disebutkan dalam penelitian Odoemelam, A. (2014). “Incidence and Management of Male and Female Sexually
Maladjusted Youngsters: Gender and Counselling Implications”, ekshibisionisme ialah suatu kelainan yang ditandai dengan keinginan, fantasi, atau perilaku mengekspos alat kelamin untuk membuat orang lain terangsang secara seksual atau memiliki keinginan kuat untuk diamati oleh orang lain tanpa harus melakukan kegiatan seksual terhadap orang lain.

“Tapi.. payudara bukan organ seksual kan? Dan di IG kita ngga memperlihatkan vagina lho”

Dalam buku Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity (Stonewall Inn Editions, 1999), Ahli biologi asal Kanada, Bruce Bagemihl mencatat, beberapa spesies primata, termasuk manusia terlihat merangsang puting sendiri saat masturbasi. 

Antropolog, Owen Lovejoy, berpendapat bahwa evolusi menempatkan organ reproduksi pria dan wanita membentuk ikatan. Dalam hipotesis ini, menandakan kalau rangsangan seksual bukan hanya terjadi bila pria menyentuh payudara wanita tapi juga saat penis pria diberikan sentuhan.

Jadi, walaupun bukan organ seksual utama, namun payudara dalam kehidupan primata merupakan penarik atau perangsang bagi aktivitas seksual itu sendiri.

Dan mengumbar organ seksual atau penarik seksualitas di media sosial bisa dikategorikan sebagai perilaku ekshibisionis.

Kalau sebagai perempuan mau menyuarakan persamaan derajat, martabat, dan kedudukan dengan para lelaki, mulailah dari menjaga martabat diri sendiri.

Cara paling gampang, bisa melihat dari banyaknya follower dan komen-komen yang mengikuti akun media sosial. Jika ternyata banyak laki-laki yang komentar tidak pantas, maka di situlah seharusnya seorang perempuan yang bermartabat mempertanyakan apa yang menjadi daya tarik bagi para lelaki itu.

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: