Benarkah Sapi Tidak Ramah Iklim?

Baru-baru ini, banyak ulasan soal Makanan Ramah Iklim di berbagai media dan blog.

Bisa saya simpulkan bahwa ini hasil press release, hasil record dari zoom meeting atau semacamnya.

Karena semua pattern penulisannya sama.
Pertama, latar belakang kenapa perlu makanan ramah iklim ini.

Yaitu, bencana alam di Indonesia mencapai 2900-an kasus, pelelehan es dari kutub utara dan selatan, banjir besar, tanah longsor, dll. Dan itu semua disebabkan oleh ketidakseimbangan alam akibat emisi carbon yang berlebih.

Sehingga, adalah penting untuk kita mengurangi bencana dengan mulai dari diri kita sendiri; salah satunya menerapkan konsep konsumsi Makanan Ramah Iklim.

Saya yakin BPPTKG akan menangis membaca tulisan tadi, betapa gunung berapi meletus akibat banyaknya emisi gas CO dan CO2 di udara.

Begitupun juga Anies Baswedan atau Ahok bahkan Jokowi sekalipun akan sedih membayangkan ternyata solusi mengatasi banjir Jakarta sesimpel jadi vegetarian.

Makanan Ramah Iklim ini sedang kenceng-kencengnya di-publish oleh sejumlah pihak seperti Oemar Niode Foundation dan Ahli Kuliner William Wongso.

Senada dengan mereka, Bill Gates juga bilang orang bisa mengurangi efek pemanasan global itu dengan mengurangi konsumsi bahan pangan yang menghasilkan gas karbon dioksida atau monoksida.

Misal, daging sapi.
Dan hanya daging sapi.
Contoh lain seolah pelengkap saja.

Versi Bill Gates, daging sapi betulan ini harus diganti pakai daging sapi sintetis, dan kebetulan beliau punya produknya.
Kok jadi kayak sales susu bayi ya.
“Ibu, kebanyakan laktosa bisa bikin anak mencret lho. Kebetulan kami ada produk susu soya PHP, dengan kandungan gizi seimbang! Ini dia, Bebelok 2!”

Mereka juga memaparkan bahwa supply chain daging sapi menyumbang 30% pelepasan karbon ke udara, mulai dari pengolahan pupuk, ritel, hingga pengantaran daging sapi ke rumah.

Saya kok ga paham ya, rantai distribusi apa yang dimaksud. Bukankah kalau pengantaran sapi atau daging sapi berarti yang menghasilkan karbon adalah mesin atau kendaraan? Bukan si sapinya, kan?

Berapa persentase kendaraan yang dipakai mengantar sapi ke pemotongan atau peternakan dibandingkan kendaraan pribadi dan transportasi umum?

Atau dalam skala lebih besar, dibandingkan persentase karbon yang dilepaskan oleh pabrik-pabrik?

Ada satu ulasan menarik milik Frank M. Mitloehner, seorang profesor dari jurusan Animal Science University of California, bahwa ternyata penelitian FAO (Food and Agriculture Organization), salah satu organisasi di bawah PBB, tentang jumlah emisi Carbon yang dihasilkan daging sapi mencapai 14,5% adalah SALAH.

https://www.google.co.id/amp/s/theconversation.com/amp/dampak-makan-daging-terhadap-perubahan-iklim-sebenarnya-tidak-sebesar-yang-kita-bayangkan-113857

Prof Frank menyatakan bahwa kalaupun orang se-Amerika Serikat semua tidak makan sapi pun, emisi karbon tersebut hanya akan berkurang 0,5%!

Penduduk Amerika, 331 juta jiwa, tidak makan steak, burger, rendang sapi, empal, bistik, dll dan itu hanya mengurangi 0,5% !

Daripada kayak begitu, sepertinya lebih efisien jika PBB meminta seluruh anggotanya menutup 10 pabrik per tahun.

Bisa juga dengan membatasi produksi kendaraan berbasis bahan bakar minyak hingga 50% per tahun.

Plus, tiap-tiap negara haruslah melarang pemakaian kendaraan dengan mesin yang umurnya sudah lebih dari 10 tahun.

Menurut saya, itu lebih relevan daripada mengajak orang makan biji-bijian, sayuran, atau kacang-kacangan seperti yang dipaparkan Bapak William Wongso.

Coba jelaskan kepada saya;
Sayuran termasuk dalam kategori tumbuhan. Mereka memproduksi oksigen. Kalau mereka kita makan dan cabut sampai akarnya, bukannya produsen oksigen malah akan berkurang?

Sementara sapi maupun hewan-hewan lain di dunia ini, menghasilkan CO2. Kenapa tidak kita makan hewan saja supaya mengurangi emisi karbon?

Walaupun dalam tataran pola diet, konsep Makanan Ramah Iklim itu sangat baik namun saya rasa agak berlebihan jika dijadikan 1 frase dengan mengurangi bahaya global warming.

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: