Jangan Bilang Saya Matre!

Mahatma Gandhi (1869-1948):“The world has enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.”

Sumber: Twitter

Seminggu ini jagad maya digemparkan oleh topik standard penghasilan pasangan. Ada yang menyebut, idealnya penghasilan pasangan di angka Rp 250 juta per bulan!

Influencer ini mengatakan bahwa standardnya adalah hal yang lumrah. “Supaya ngga jomplang,” katanya.

Saya-nya yang jomplang duluan baca tweet itu. Literally, jomplang ke belakang.

Pasangan dia dapet duit minimal Rp 250 juta/bulan.

Dianya juga punya duit at least Rp 250 juta/bulan.

Jadi kalo mereka jadi nikah, valuasi mereka total Rp 500 juta/bulan. Setaun Rp 6 M. Kalau nikahnya 10 tahun, valuasinya minimal 60 M. Belum termasuk asset-nya. Wah, tinggal pitching start-up aja itu biar di-inject investor semacam Tenscent atau Temasek.

Digital start-upnya namanya apaan ya kira-kira?

Guemahal.com

Endorseguedonk.id

Moneyme.co

Tapi yang mencengangkan bukan hanya jawaban influencer tadi. Tapi jawaban netizen lainnya—yang bukan dari golongan public figure atau influencer.

Ada yang minimal 2 digit. Ada yang 3 digit. Itu gaji apa kode gembok.

Pertanyaan saya, ini proses pacarannya gimana ya? Apakah dari awal dia akan menanyakan “Iya, aku juga suka.. tapi btw gaji kamu berapa ya?”

Atau kalau udah pacaran beberapa lama, kemudian mereka ini akan bilang, “Sayang, kayaknya aku mesti liat slip gaji kamu deh.”

Itu kayak saya ga bisa bayanginnya. Salah-salah malah dianggap matre kemudian ga jadi nikah.

“Jangan bilang saya materialistis, saya cuma realistis!”

Begini lho, ya.

Dalam psikologi, materialisme didefinisikan sebagai pandangan yang berisi orientasi, sikap, dan keyakinan, yang menekankan kepemilikan uang atau barang-di atas nilai-nilai hidup lainnya (Kasser, 2002).

Seandainya sesembak-mbak tadi punya pacar yang sholeh, baik, bisa memperlakukan dia seperti ratu, ganteng, dan straight.. tapi pendapatannya ngga 250 juta/bulan, apakah masih bisa masuk standardnya? Atau bisa ga sih misal 250 juta/ bulan tadi digantikan dengan sholat Dhuha setiap hari 12 rokaat ? Karena sholat Dhuha kan bisa membuka pintu rejeki, tuh. Siapa tau ntar bisa pelan-pelan kaya bahkan penghasilannya bisa lebih dari 250 juta/bulan.

Ngga bisa, ya kayaknya.

Karena 250 juta/bulan tadi menjadi tolak ukur kualitas seseorang, kalau menurut Richins dan Dawson (1992, h. 308), itu sudah masuk ke Acquisition Centrality, salah satu gejala materialisme.

Saya cuma mikir, kalau saya dapet duit 250 juta per bulan dan saya bahagia dengan itu, saya justru males punya pasangan. Karena saya sudah merasa bahagia sehingga ngga perlu pelengkap lagi. Atau kalaupun saya punya pasangan, saya sudah ngga mikir penghasilan dia di berapa.

Artinya ada unsur mengejar kebahagiaan yang diukur dengan banyaknya uang. Itu juga gejala materialitis, yang disebut Acquisition as the Pursuit of Happiness.

“Oh ngga gitu. Banyaknya uang yang didapatkan menggambarkan kerja keras mereka.”

Aduh, itu malah menunjukkan perilaku ketiga dalam sifat materialistis; yaitu Possession-Defined Success.

Keyakinan bahwa barang milik dan uang merupakan alat ukur untuk mengevaluasi prestasi diri sendiri dan orang lain.

Kalau “cuma” Rp 250 juta per bulan standardnya, ada beberapa pilihan profesi ini sebetulnya:

1. Juragan tambang pasir di desa-desa.

2. Pemilik bus Antar Kota Antar Provinsi.

3. Juragan lapak di Tanah Abang.

4. Makelar tanah

5. Perangkat Desa

6. Preman

7. Bandar Narkoba

8. Politikus

Dan masih banyak lagi kok. Ngga mesti content creator 😉

Published by Redaksi Komenin Semua

Komenin semua hal yang sekiranya agak menggugah perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: